KELAS:2PA16
NPM: 1D514023
A.
KONSEP SEHAT
Definisi sehat. Sehat (Health) secara umum dapat dipahami sebagai
kesejahteraan secara penuh (keadaan yang sempurna) baik secara fisik, mental,
maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah. Sedangkan
di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/ 1992 menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan
sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk
hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis. World Health Organization (WHO,
2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan
yang disadari individu, yang di dalamnya terdapatkemampuan-kemampuan untuk
mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan
menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.
Kesehatan
mental Bagian integral Kesehatan mental tdk semata-mata berkaitan dng
terbebasnya Individu dr gangguan mental, tp juga berkaitan kesehatan fisik dan
perilaku Rumusan Definisi kesehatan mental penting tanpa mengabaikan
perbedaan kultural & situasional ttg berbagai kondisi yg tercakup di
dalamnya
·
Sehat > spiritual, fisik,sosial,psikologis
Jahoda
(Ihrom, 2008), batasan lebih luas Kesehatan
mental mencakup :
(a)
sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri, kemampuan mengenali diri
dengan baik.
(b)
pertumbuhan dan perkembangan serta perwujudan diri yang baik.
(c)
keseimbangan mental, kesatuan pandangan dan ketahanan terhadap segala tekanan.
(d)
otonomi diri yang mencakup unsur-unsur pengatur kelakuan dari dalam atau
kelakuan-kelakuan bebas.
(e)
persepsi mengenai realitas, terbebas dari penyimpangan kebutuhan serta memiliki
empati dan kepekaan sosial
(f) kemampuan
menguasai dan berintegrasi dengan lingkungan.
·
Sejarah perkembangan kesehatan mental
Peradaban
awal 5000 SM-500M
Di
beberapa belahan dunia kedokteran
mulai berkembang (babylonia, Mesir, Yahudi, Persia, China, Indian, Yunani
Gangguan
mental diatasi dng pendekatan supra
natural oleh tukang sihir, upacara agama, persembahan para dewa, dsb.
Filsuf2
Yunani Pandangan
Baru ttg
gangguan jiwa
Hipokrates
(460-377 SM) : Perilaku abnormal sebab
natural
Otak
berperan penting perawatan
fisik mandi,
diet, dsb
Galenus
(130-200M) meneruskan
gagasan Hipokrates
4 tipe
manusia berdasarkan cairan tubuh (Chole, melankole.dsb)
Cicero 106-43
SM Emosi dpt menyebabkan penyakit
fisik
Abad
pertengahan/abad genap
Kemunduran
peradaban romawi/yunani
Kemunduran
ilmu pengetahuan di Eropa >penyembuhan mistis dengan mantra dan jimat>Demonologi
hidup kembali,
Diperkuat
pendekatan teologis hukuman
dari Tuhan orang
yg mengalami gangguan jiwa kerasukan
setan menjual
jiwanya utk mendapt kekuatan gaib/sihir>Kebencian meluas thd ‘penyihir’
penebar bala>Pasien
yang membahayakan dihukum,
disiksa, dijualAtau
diusir
Teori
psikiatri dan tritmen utk penderita gangguan mental berkembang di bidang
psikologi muslim
dan
kedokteran Islam
di abad
8 RS
psikiatri pertama di bangun oleh psikiater Persia, Rhazes, di Baghdad. Belawanan dng paham demonologi
etika
Islam mengajarkan sikap simpatik (Qur’an Surat 4:5 ) Bagi orang yg belum
memiliki kematangan jiwa/belum dewasa/belum berakal
dilindungi dan
dibantu mengelola hartanya
Abad
XVII-XX
Perubahan>pendekatan
demonologis
Pendekatan
Ilmiah gangguan
jiwa sbg penyakit
Inggris,
Italia, Perancis, Amerika perlawanan
thd
pemasungan
& pemenjaraan pasien jiwa
Perancis
: Philippe Pinel (1745-1826) bapak
psikiatri pelopor
perlakuan & pemahaman manusiawi thd orang sakit mental
Inggris
: William Tuke mendirikan
York retreat
Amerika:
Dorothea Dix mendisikan
RS mental modern dan mendesak kongres utk perlakuan yg lebih manusiwi thd
pasien gangguan jiwa.
Clifford
Beers: biografi ‘a mind that found itself’ (1908)
pengalaman pribadi
sbg pasien perlakuan
tak manusiawi
6 Mei
1908 Beers
dg didukung beberapa tokoh psikologi & psikiatri
Gerakan ilmu
kesehatan Mental mental
Hygiene. Menolak segala aturan dan cara pengobatan konvensional
Upaya metode baru
yg lebih manusiawi Menstimulir riset di bidang psikiatri, meningkatkan kualitas
pendidikan psikiatri, pengembangan pengukuran utk upaya prevensi gangguan
mental, mempopulerkan perspektif psikiatris dan psikologis. Gerakan diperluas National Committee for Mental
Hygiene
cabang
48 neg. bagian di USA 4
tujuan pokok:
1.Perbaikan
dlm metode pemeliharaan & penyembuhan pasien
2.Membantu
mengurangi faktor penyebab penyakit mental
3.Meberi
perawatan ilmiah sebaik mungkin
4.Meningkatkan
daya tahan mental semua pria, wanita & anak
1919:
International Committee for Mental Hygiene
1946 :
upaya bersifat preventif diakui Kongres
USA
mengesahkan
UU Kesehatan Mental Nasional.
1948 :
World Federation for Mental Health (WFMH)
Masalah
Kesehatan Mental perhatian
luas dunia
REFERENSI
Kartono, Kartini (2000), Hygiene Mental, Penerbit Mandar Maju,
Bandung
Schultz, D. (1991), Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian
Sehat, Penerbit Kanisius.
Semiun, Y., (2006), Kesehatan Mental jilid
1& 2, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
B.
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
Aliran
Psikoanalisa
Psikoanalisis
adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya,
sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.
Aliran
psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego,
super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini mengabaikan Potensi yang dimiliki
oleh manusia. Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan
pengalaman-pengalaman dini.
Kepribadian
Sehat Psikoanalisa:
1. Menurut freud kepribadian
yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola
perkembangan yang ilmiah.
2. Kemampuan dalam mengatasi
tekanan dan kecemasan, dengan belajar
3. Mental yang sehat ialah
seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego
4. Tidak mengalami gangguan
dan penyimpangan pada mentalnya
5. Dapat menyesuaikan keadaan
ddengan berbagai dorongan dan keinginan
Dalam
aliran Psikoanalisa ini bisa dibilang manusia adalah korban tekanan biologis
dan konflik masa kanak-kanak. Aliran ini melihat dari sisi negative individu,
alam bawah sadar (id,ego,superego, mimpi dan masa lalu.
Pandangan
kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit atau kurang, ‘sisi
yang pincang’ dari kodrat manusia, karna hanya berpusat pada tingkah laku yang
neuritis dan psikotis.
Sigmund
freud dan orang-orang yang mengikuti ajarannya mempelajari kepribadian yang
terganggu secara emosional, bukan kebribadian yang sehat; atau kebribadian yang
paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik.
Jadi,
aliran ini memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia
dianggap sebagai korban dari tekanan-tekanan biologis dan konflik masa
kanak-kanak.
Aliran
Behavioristik
Behaviorisme
juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon). Behaviorisme menolak bahwa
pikiran merupakan subjek psikologi dan bersikeras bahwa psokologi memiliki
batas pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang
yang dapat diamati. Teori Behaviorisme sendiri pertama kali diperkenalkan oleh
John B. Watson (1879-1958)
Aliran
behaviorisme mempunyai 3 ciri penting.
1. Menekankan pada
respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku
2. Menekankan pada perilaku
yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak
kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
3. Memfokuskan pada perilaku
binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku manusia dan
perilaku binatang. Kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari
studi tentang apa yang dilakukan binatang.
Menurut
penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya rangsangan yaitu
berupa stimulus dan diikuti oleh suatu reaksi beupa respons terhadap rangsangan
itu. Salah satu penganut watson yang sangat besar masukannya untuk perkembangan
behaviorisme adalah B.F. Skinner. Aliran ini memandang manusia seperti mesin
yang dapat dikendalikan perilakunya lewat suatu pengkondisian. Ini menganggap
manusia yang meberikan respon positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini
manusia di anggap tidak memiliki sikap diri sendiri.
Jadi
menurut Behaviorisme manusia dianggap memberikan respons secara pasif terhadap
stimulus-stimulus dari luar. Kepribadian manusia sebagai suatu sistem yang
bertingkah laku menurut cara yang sesuai peraturannya dan menganggap manusia
tidak memiliki sikap diri sendiri.
Kepribadian
yang sehat menurut behavioristik:
1. Memberikan respon terhadap
faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya
2. Bersifat sistematis dan
bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman
3. Sangat dipengaruhi oleh
faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri
4. Menekankan pada tingkah
laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif
MENURUT ALLPORT, individu-individu yang
sehat dikatakan mempunyai fungsi yang baik pada tingkat rasional dan sadar.
Menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dan dapat
mengontrol kekuatan-kekuatan itu juga. Kepribadian yang matang tidak dikontrol
oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Dimana orang-orang
yang neurotis terikat dan terjalin erat pada pengalaman-pengalaman masa
kanak-kanak, berbeda dengan orang-orang yang sehat yang
bebas
dari paksaan-paksaan masa lampau. Pandangan orang sehat adalah ke depan, kepada
peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang akan datang, dan
tidak mundur kembali kepada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Segi pandangan
yang sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak.
Orang yang matang dan sehat juga akan terus menerus membutuhkan motif-motif
kekuatan dan daya hidup yang cukup untuk menghabiskan energi energinya. Pada
tahap perkembangan manapun, setiap individu harus menemukan minat-minat dan
impian-impian
baru. Energi tersebut harus diarahkan pada setiap tahap agar mencapai suatu
kepribadian yang sehat. Contohnya seorang remaja membutuhkan
penyaluran-penyaluran atas energinya agar terhindar dari kepribadian yang tidak
sehat. Energi itu harus menemukan jalan keluar, dan apabila energi tidak diungkapkan
secara konstruktif maka mungkin energi akan dilepaskan secara destruktif.
Dimana beberapa anak yang kekurangan tujuan-tujuan yang berarti dan konstruktif
untuk menghabiskan energi mereka, menyebabkan masalah kenakalan.
TEORI KEPRIBADIAN ALLPORT
Dorongan
yang bersifat konstruktif adalah sangat penting bagi orang-orang yang sehat
secara psikologis. Orang-orang yang demikian mengejar secara aktif
tujuan-tujuan, harapan-harapan, dan impian-impian, dan kehidupan mereka
dibimbing oleh suatu perasaan akan maksud, dedikasi, dan komitmen. Pengejaran terhadap
suatu tujuan tidak pernah berakhir; apabila suatu tujuan harus dibuang, maka
suatu motif yang baru harus cepat dibentuk. Orang yang sehat melihat ke masa
depan dan hidup dalam masa depan.
KRITERIA
KEPRIBADIAN YANG MATANG
Tujuh
kriteria kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport tentang
sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat.
1.
Perluasan Perasaan Diri
Ketika
orang menjadi matang, dia mengembangkan pehatian-perhatian di luar diri. Orang
harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menamakan hal ini “partisipasi
otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari
usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas. Dalam pandangan
Allport, suatu aktivitas harus relevan dan penting bagi diri; harus berarti
sesuatu bagi orang itu. Apabila anda mengerjakan suatu pekerjaan karena anda percaya
bahwa pekerjaan itu penting, karena pekerjaan itu menantang kemampuan-kemampuan
anda, atau karena mengerjakan pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya membuat anda
merasa enak, maka anda merupakan seorang partisipan yang otentik dalam pekerjaan
itu. Aktivitas itu lebih berarti bagi anda daripada pendapatan yang diperoleh;
aktivitas itu memuaskan kebutuhankebutuhan
lain
juga. Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau
orang atau ide, maka semakin juga dia akan sehat secara psikologis. Perasaan
partisipasi otentik ini berlaku bagi pekerjaan
kita,
hubungan dengan keluarga dan teman-teman, kegemaran, dan keanggotaan kita dalam
politik dan agama.
2.
Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain
Allport
membedakan dua macam kehangatan alam hubungan dengan orang-orang lain;
kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang yang
sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap
orangtua, anak, partner, teman akrab. Orang mengungkapkan paritisapi otentik
dengan orang yang dicintai dan memperlihatkan kesejahteraannya; hal ini sama pentingnya
dengan kesejahteraan individu sendiri. Syarat lain bagi kapasitas untuk
keintiman adalah suatu perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik. Orang
yang neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka
untuk memberinya. Apabila mereka memberi cinta, maka cinta itu diberikan dengan
syarat-syarat dan
kewajiban-kewajiban
yang bersifat timbal balik. Cinta dari orang– orang yang sehat adalah tanpa
syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat. Perasaan terharu, tipe kehangatan yang
kedua adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan
dengan semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami
kesakitan-kesakitan, penderitaanpenderitaan, ketakutan-ketakutan, dan
kegagalan-kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia. Empati itu timbul
melalui “perluasan imajinatif” dari perasaan orang sendiri terhadap kemanusiaan
pada umumnya. Kepribadian yang matang sabar terhadap tingkah laku orang-orang
lain dan tidak mengadili atau menghukumnya. Orang-orang yang sehat menerima
kelemahan-kelemahan manusia.
3.
Keamanan Emosional
Sifat
dari kepribadian yang sehat ini meliputi beberapa kualitas; kualitas utama
adalah penerimaan diri. Kepribadian-kepribadian yang sehat mempu menerima semua
segi dari ada mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekuarangan tanpa
menyerah secara pasif pada kelemahan-kelemahan tersebut. Orang sehat mampu
hidup dengan ini dan segi-segi lain dalam kodrat manusia, dengan sedikit
konflik dalam diri mereka atau dengan masyarakat. Mereka berusaha bekerja
sebaik
mungkin
dan dalam proses mereka berusaha memperbaiki diri mereka. Kepribadian-kepribadian
yang sehat juga mampu menerima emosiemosi mereka, mereka bukan tawanan dari
emosi-emosi mereka, dan mereka juga tidak berusaha bersembunyi dari emosi-emosi
itu. Kepribadian yang sehat mengontrol emosi-emosi mereka. Orang yang neurotis,
menyerah pada emosi apa saja yang dominan pada saat itu. Berkali-kali
memperlihatkan kemarahan atau kebencian, betapapun perasaan-perasaan itu
mungkin tidak tepat. Kualitas lain dari keamanan emosional ialah apa yang
disebut Allport “sabar terhadap kekecewaan”. Orang yang sehat sabar menghadapi
kemunduran-kemunduran; mereka tidak menyerahkan diri kepada kekecewaan yang
kurang menimbulkan kekecewaan untuk mencapai tujuan tujuan yang sama atau
tujuan-tujuan substitusi. Orang-orang yang sehat tidak bebas dari
perasaan-perasaan tidak aman dan ketakutan-ketakutan, tetapi mereka merasa
kurang terancam dan dapat menanggulangi perasaan-perasaan tersebut lebih baik
daripada orang-orang yang neurotis.
4.
Persepsi Realistis
Orang-orang
yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya orang yang
neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan
keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka
sendiri. Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau
situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka
pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realita sebagaimana adanya.
5.
Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
Allport
menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri di
dalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan
keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu suatu tingkat kemampuan.
Kita juga harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara ikhlas, antusias,
melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya alam
pekerjaan
kita.
Komitmen
dalam orang-orang yang sehat begitu kuat sehingga mereka sanggup menenggelamkan
semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan (seperti kebanggaan) ketika
mereka terbenam dalam pekerjaan. Dedikasi terhadap pekerjaan ini ada
hubungannya dengan gagasan tentang tanggung jawab dan dengan kelangsungan hidup
yang positif. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan konstinuitas
untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang
positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukan dengan dedikasi,
komitmen, dan keterampilan-keterampilan.
6.
Pemahaman Diri
Pengenalan
diri yang memadai menuntut pemahaman tentang hubungan/perbedaan antara gambaran
tentang diri yang dimiliki seseorang dengan dirinya menurut keadaan yang
sesungguhnya. Semakin dekat hubungan antara kedua gagasan ini, maka individu juga
semakin matang. Hubungan lain yang penting adalah hubungan antara apa yang
dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya itu. Orang yang sehat terbuka pada
pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif.
Orang
yang memiliki suatu tingkat pemahaman diri (selfobjectification) yang
tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas
pribadinya yang negatif epada orang lain. Orang itu akan menadi hakim
yang seksama terhadap orang-orang lain, dan biasanya dia diterima dengan
lebih baik oleh orang-orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa orang
yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada
orang yang memiliki wawasan diri yang kurang. Selain itu, terdapat
korelasi yang tinggi antara tingkat wawasan diri dan perasaan humor,
yakni tipe humor yang menyangkut persepsi tentang hal-hal yang aneh dan
hal-hal yang mustahil serta kemampuan untuk menertawakan diri sendiri.
(Allport membedakan humor ini dari humor komik kasar yang menyangkut seks
dan agresi).
7.
Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Orang-orang
yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan tujuan dan
rencana-rencana jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai suatu perasaan
akan tujuan, suatu tugas untuk bekerja sampai selesai, sebagai batu
sendi kehidupan mereka, dan ini memberi kontinuitas bagi kepribadian
mereka.
Allport
menyebut dorongan yng mempersatukan ini “arah” (directness). Arah ini
membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan atau rangkaian
tujuan) serta memberikan orang itu suatu alasan untuk hidup. Tanpa tujuan kita mungkin
akan mengalami masalah-masalah kepribadian. Mustahil memiliki suatu kepribadian
yang sehat tanpa aspirasi-aspirasi dan
arah
ke masa depan. Mungkin kerangka untuk tujuan-tujuan khusus itu adalah ide tentang
nilai-nilai. Allport menekankan bahwa nilai-nilai (bersama dengan
tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup
yang mempersatukan. Seorang individu dapat memilih di antara berbagai nilai-nilai
dan nilai-nilai itu mungkin berhubungan dengan diri sendiri atau mungkin
nilai-nilai itu luas dan dimiliki oleh banyak orang lain. Orang yang neurotis
tidak memiliki nilai-nilai atau hanya memiliki nilai-nilai yang terpecah-pecah
dan bersifat sementara. Nilai-nilai orang yang neurotis tidak tetap atau tidak
cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan semua segi kehidupan. Suara hati juga
berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Suara hati yang tidak
matang sama seperti suara hati kanak-kanak, yang patuh dan membudak, penuh
dengan pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan yang dibawa dari masa
kanak-kanak ke dalam masa dewasa. Suara hati yang tidak matang bercirikan
perasaan “harus” dan bukan “sebaiknya”. Suara hati yang matang adalah suatu
perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada
orang-orang lain, dan
mungkin berakar dalam nilai-nilai agama dan
nilai-nilai etis.
Riyanti,
Dwi B.P., Prabowo, Hendro. (1998). Seri diktat kuliah psikologi umum 2.
Depok: Universitas Gunadarma.
Schultz
Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Schultz
Duane. 1991. Pengantar Psikologi Kepribadian Non Psikoanalitik. Yogyakarta :
Kanisius.