TUGAS 2 KESEHATAN MENTAL
NAMA: NABELLA PRATIWI WD
NPM: 1D514023
KELAS: 2PA16
1. ALIRAN HUMANISTIK
Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh
sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah
kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat
berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang
dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi
humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force) karena humanistik muncul
sebagai kritik terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik ala
behaviorisme dan pesimistik ala psikoanalisa.
Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut
untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja
mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan
memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar
sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon
pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa
lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap
individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk
menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.
Kepribadian yang sehat menurut humanistik, perilaku yang mengarah pada
aktualisasi diri:
1) Menjalani hidup seperti seorang anak, dengan penyerapan dan konsentrasi
sepenuhnya.
2) Mencoba hal-hal baru ketimbang bertahan pada cara-cara yang aman dan
tidak berbahaya.
3) Lebih memperhatikan perasaan diri dalam mengevaluasi pengalaman
ketimbang suara tradisi, otoritas, atau mayoritas.
4) Jujur; menghindari kepura-puraan dalam “bersandiwara”.
5) Siap menjadi orang yang tidak popular bila mempunyai pandangan
sebagian besar orang.
6) Memikul tanggung jawab.
7) Bekerja keras untuk apa saja yang ingin dilakukan.
2. MUNURUT ALLPORT
Allport ingin menghilangkan
kontradiksi-kontradiksi dan kekaburan-kekaburan yang terkandung dalam
pembicaraan-pembicaraan tentang “diri” dengan membuang kata itu dan
menggantikannya dengan suatu kata lain yang akan membedakan konsepnya tentang
“diri” dari semua konsep lain. Istilah yang dipilihnya adalah proprium dan
dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam
kata “appropriate”.
Proprium menunjuk
kepada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti
bahwa proprium (self) terdiri dari hal-hal atau
proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu,
segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Allport menyebutnya
“saya sebagaimana dirasakan dan diketahui”.
Proprium berkembang
dari masa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat “diri”. Apabila
semua segi perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi-segi tersebut
dipersatukan dalam suatu konsep proprium. Jadi proprium adalah
susunan dari tujuh tingkat “diri” ini. Munculnya proprium merupakan
suatu prasyarat untuk suatu kepribadian yang sehat.
“Diri” jasmaniah. Kita
tidak dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri. Bayi itdak dapat
membedakan antara diri (“saya”) dan dunia sekitarnya. Kira-kira pada usia 15
bulan, maka muncullah tingkat pertama perkembangan proprium diri
jasmaniah. Kesadaran akan “saya jasmaniah” misalnya bayi membedakan
antara jari-jarinya dan sebuah benda yang dipegang dalam jari-jarinya.
Identitas diri. Pada
tingkat kedua perkembangan, muncullah perasaan identitas diri. Anak
mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang
terpisah. Anak mempelajari namanya, menyadari bahwa bayangan dalam cermin
adalah bayangan yang sama seperti yang dilihatnya kemarin, dan percaya bahwa
perasaan tentang “saya” atau “diri” tetap bertahan dalam menghadapi
pengalaman-pengalaman yang berubah-ubah.
Harga diri. Tingkat
ketiga dalam perkembangan proprium ialah timbulnyaharga diri. Hal
ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar
mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Allport percaya bahwa hal ini
merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan, apabila orang tua
menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang
timbul dapat dirusakkan. Akibatnya dapat timbul perasaan dihina dan marah.
Perluasan diri (self
extension). Tingkat perkembangan diri berikutnya adalah perluasan diri, mulai
sekitar usia 4 tahun. Anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan
benda-benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diantaranya adalah
milik anak tersebut. Anak berbicara tentang “kepunyaanku”, ini adlah permulaan
dari kemampuan orang untuk memperluas dirinya, untuk memasukkan tidak hanya
benda-benda tetapi juga abstraksi-abstraksi, nilai-nilai, dan
kepercayaan-kepercayaan.
Gambaran diri. Gambaran
diri berkembang pada tingkat berikutnya. Hal ini menunjukkan bagaimana
anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini berkembang
dari interaksi-interaksi antara orangtua dan anak. Lewat pujian dan hukuman
anak belajar bahwa orangtuanya mengharapkan supaya menampilkan tingkah
laku-tingkah laku tertentu dan manjauhi itngkah laku-tingkah laku lain. Dengan
mempelajari harapan-harapan orangtua, anak mengembangkan dasar untuk suatu
perasaan tanggung jawab moral serta untuk perumusan tentang tujuan-tujuan dan
intensi-intensi.
Diri sebagai pelaku rasional. Setelah
anak mulai sekolah, diri sebagai pelaku rasional mulai timbul. Aturan-aturan
dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru dan teman-teman sekolah
serta hal yang lebih penting ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan
tantangan-tantangan intelektual. Anak belajat bahwa dia dapat memecahkan
masalah-masalah dengan menggunakan proses-proses yang logis dan rasional.
Perjuangan proprium (propriate
striving). Dalam masa adolesensi, perjuangan proprium (propriate striving),
tingkat terakhir tingkat terakhir dalam perkembangan diri (selfhood)
timbul. Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat
menentukan. Orang sibuk dalam mencari identitas diri yang baru, segi yang
sangat penting dari pencarian identitas ini adalah definisi suatu tujuan hidup.
Pentingnya pencarian ini yakni untuk pertama kalinya orang memperhatikan masa
depan, tujuan-tujuan dan impian-impian jangka panjang.
Perkembangan dari daya dorong kedepan, intensi-intensi,
aspirasi-aspirasi, dan harapan-harapan orang itu mendorong kepribadian yang
matang. “sasaran-sasaran yang menentukan” ini dalam pandangan Allport sangat
penting untuk kepribadian sehat.
Tujuh tingkat diri atau
proprium ini berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi. Suatu kegagalan
atau kekecewaan yang hebat pada setiap tingkat melumpuhkan penampilan
tingkat-tingkat berikutnya serta menghambat integrasi harmonis dari
tignkat-tingkat itu dalam proprium. Dengan demikian
pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak sangat penting dalam perkembangan
kepribadian yang sehat.
7 Kriteria Kematangan
Tujuh criteria kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport
tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat.
1). Perluasan Perasaan Diri
Ketika diri berkembang, maka
diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mula-mula diri berpusat hanya
pada individu kemudian diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan citi-cita
yang abstrak. Orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport
menamakan hal ini “pertisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa
suasana yang penting dari usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas.
Menurut Allport, suatu aktivitas harus relevan dan penting bagi diri;
harus berarti sesuatu bagi orang itu. Apabila anda mengerjakan suatu pekerjaan
karena anda percaya bahwa pekerjaan itu penting, menantang kemampuan, membuat
anda merasa enak, maka anda merupakan seorang partisipan otentik dalam
pekerjaan itu. Aktivitas itu lebih berarti daripada pendapatan yang diperoleh
dan memuaskan kebutuhan-kebuthan lain juga.
Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau
orang atau ide, maka ia semakin sehat secara psikologis. Diri menjadi tertanam
dalam aktivitas-aktivitas yang penuh arti dan menjadi perluasan perasaan diri.
2). Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan
orang-orang lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan
terharu.
Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman
(cinta) terhadap orangtua, anak, partner, teman akrab. Apa yang dihasilkan oleh
kapasitas untuk keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang
berkembang baik, syarat lain bagi kapasitas keintiman adalah suatu perasaan identitas
diri yang berkembang dengan baik.
Ada perbedaan antara hubungan cinta dari orang yang neurotis dengan
hubungan cinta dari kepribadian-kepribadian yang sehat. Orang-orang yang
neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk
memberinya. Apabila mereka membari cinta, maka cinta itu diberikan dengan
syarat-syarat dan kewajiban-kewajiban yang bersifat timbal balik. Cinta dari
orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan, atau mengikat.
Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah suatu pemahaman
tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa.
Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan,
penderitaan-penderitaan, ketakutan-ketakutan, dan kegagalan-kegagalan yang
merupakan cirri kehidupan manusia. Empati ini timbul melalui “perluasan
imajinatif” dan perasaan orang sendiri terhadap kemanusiaan pada umumnya.
Sebagai hasil dari kapasitas perasaan terharu, kepribadian yang matang
sabar terhadap tingkah laku orang-orang lain dan tidak mengadili atau
menghukumnya. Orang yang sehat menerima kelemahan-kelemahan manusia, dan
mengetahui bahwa dia memiliki kelemahan-kelemahan yang sama. Akan tetapi, orang
yang neurotis tidak sabar dan tidak mampu memahami sifat universal dari
pengalaman-pengalaman dasar manusia.
3). Keamanan Emosional
Kepribadian-kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi-emosi
manusia. Kepribadian-kepribadian yang sehat mengontrol emosi-emosi mereka,
sehingga emosi-emosi ini tidak mengganggu aktivitas-aktivitas antarpribadi,
emosi-emosi diarahkan kembali ke dalam saluran-saluran yang lebih konstruktif.
Akan tetapi orang-orang yang neurotis menyerah pada emosi apa saja yang
dominant pada saat itu, berkali-kali memperlihatkan kemarahan atau kebencian.
Kualitas lain dari keamanan emosional ialah apa yang disebut Allport
“sabar terhadap kekecewaan”. Orang-orang yang sehat sabar menghadapi
kemunduran-kemunduran, tidak menyerah diri kepada kekecewaan, tetapi mampu
memikiran cara-cara yang berbeda, yang kurang menimbulkan kekecewaan untuk
mencapai tujuan-tujuan yang sama atau tujuan-tujuan substitusi.
4). Persepsi Realistis
Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif.
Sebaliknya, orang-orang yang neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya
membuatnya sesuai dengan keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan
ketakutan-ketakutan mereka sendiri. Orang-orang yang sehat
tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau situasi-situasi
semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap
realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.
5). Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan
keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu, suatu tingkat kemampuan. Kita
harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara ikhlas, antusias,
melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita.
Allport mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki
keterampilan-keterampilan menjadi neurotis, akan tetapi tidak mungkin menemukan
orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan keterampilan mereka
pada pekerjaan mereka. Allport mengutip apa yang dikatakan Harvey Cushing, ahli
badah otak yang terkenal, “satu-satunya cara untuk melangsungkan kehidupan
adalah menyelesaikan suatu tugas”.
Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitis
untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang
positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting melakukannya dengan dedikasi,
komotmen, dan keterampilan-keterampilan.
6). Pemahaman Diri
Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih
tinggi daripada orang-orang yang neurotis. Orang yang sehat terbuka pada
pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif.
Orang yang memilii suatu
tingkat pemahaman diri (self objectification) yang tinggi atau wawasan
diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif
kepada orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan
diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan
diri yang kurang.
7). Filsafah Hidup yang Mempersatukan
Bagi Allport rupanya mustahil memiliki suatu kepribadian yang sehat
tanpa aspirasi-aspirasi dan arah ke masa depan. Allport menekankan bahwa
nilai-nilai (bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi
perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan.
Memiliki nilai-nilai yang kuat, jelas memisahkan orang yag sehat dari
orang yang neurotis. Orang yang neurotis tidak memiliki nilai-nilai atau hanya
memiliki nilai-nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara sehingga tidak
cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan semua segi kehidupan.
Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafat hidup yang
mempersatukan. Suara hati yang tidak matang atau neurotis sama seperti suara
hati kanak-kanak, yang patuh, membudak, penuh dengan pembatasan-pembatasan dan
larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa. Sedangkan
suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tangggung jawab
kepada diri sendiri dan orang lain.
3. MENURUT ROGERS
Carl
Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, illionis, sebuah daerah
pinggiran Chicago.Masuk psikologi klinis di Columbia University dan menerima
gelar Ph.D thn 1931.
Tahun
1942, dia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy.
Pada thn
1945 dia di undang untk mendirikan pusat konseling di Universitas of Chicago.
Tahun
1946-1957 menjadi Presiden the American Psychological Association.
Dia
meninggal pd thn 1987.
KONSEP
KEPRIBADIAN
- Tingkah
laku manusia hanya dapat dipahami dari bagaimana dia memandang realita
secara subyektif.
- Bahwa
manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri.
- Manusia
itu Bebas, Rasional, Utuh, mudah berubah, sebjektif, heterostatis, dan
sukar di pahami.
- Tori
Rogers adalah memanusiakan manusia.
- Rogers
terkenal dengan terapy client-centered therapy
Rogers
adalah orang yang pertama melibatkan peneliti ke dalam sesi terapi (memakai
tape recorder) yang pada tahun 1940 membuka sesi klien untuk di cermati orang
lain.
Tekniknya
mudah di pahami dan banyak bermanfaat bagi klien, sehingga tersebar luas di
kalangan konselor pendidikan, konselor dan bimbingan dan pekerja sosial.
Untuk
mempergunakannya di butuhkan sedikit atau tanpa pengetahuan mengenai diagnosis
dan dinamika kepribadian.
Menurut
Rogers ada 19 hakekat Pribadi (self):
1.Setiap
organisme berada dlm dunia pengalaman yang terus-menerus berubah.
2.Organisme
menanggapi dunia sesuai dgan persepsinya.
3.Organisme
mereaksi medan fenomena secara total.
4.Organisme
mempunyai kecendrungan pokok yakni keinginan untk self aktualisasi diri.
5.Pd
dasarnya tingkah laku merupakan usah yg berarah tujuan untk memuaskan
kebutuhan-kebutuhan.
6.Emosi
akan menyertai tingkah laku dan seberapa penting tingkah laku dlm usaha
aktualisasi diri.
7.Untk
memahami tingkah laku seseorang itu harus memandang orang itu sendiri.
8.Self
adlh kesadaran akan keberadaan dan fungsi diri, yg di peroleh melalui
pengalaman di mana diri(“I” atau “me”).
9.Self
struktus adlh suatu pola pangamatan yg bersifat utuh/ bulat, teratur mudah
bergerak dan selalu konsisten dalam nilai-nilai lingkungan.
10.
Apabila terjadi konflik dgn nilai-nila, maka orgnisme akan merevisi gambaran
dirinya dan di asimilasi.
11.
Pengalaman yg terjadi dalam kehidupan seseorang maka akan di proses:
disimbulkan, diabaikan, diingkari atau di kaburkan.
12.
Umumnya TL konsisten dgan self-concept.
13. TL yg
di dorong oleh kebutuhan organis yg tidak di lambangkan, bisa tidak konsisten
dgan self.
14.
Organisme menolak menyadari pengalaman sensorik yg tdk dpat disimbulkan dan di
susun dlm kesatuan self-structurya.
15.Psyhological
adjusment terjadi apabila dapat menampung semua pengalaman dlam konsep diri.
16.Setiap
pengalaman yg tidak sesuai dgn self-structure akan di amati sebagai
ancaman (theat).
17.Khusus
dlm kondisi bebes dari ancaman struktur self dapat di amati dan di uji.
18.Apabila
organisme mengamati dan menerima semua pengalaman orang lain maka dia akan
lebih mengerti individu yg berbeda.
19.Semakin
banyak individu mengamati dan menerima pengalaman sensorik ke dalam
selfnya kemungkinan nilai-nilai semakin besar.
STURKTUR
KEPRIBADIAN
1.Organism
ØOrganism
adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat semua
pengalaman dan segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadar
setiap saat.
ØSubyjective
reality Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya.
Realita adalah medan persepsi yang sifatnya subjektif, bukan benar-salah.
ØHolism
ad/ organisme adalah satu kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu
bagian akan mempengaruhi bagian yang lain. Setiap perubahan memiliki makna
pribadi dan bertujuan, yakni tujuan aktualisasi diri, mempertahankan diri dan
mengembangkan diri.
2.
Phenomenal field (medan fenomenal): keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun
eksternal, di sadari maupun tidak di sadari antara lain:
üpengalama
internal (persepsi mengenai diri sendiri) dan pengalama eksternal (persepsi
mengenai dunia luar).
üMeliputi
pengalama yang disimbulkan (di amati dan di susun dalam kaitanya dengan diri
sendiri).
üSemua
persepsi bersifat subyektif, benar bagi diri sendiri.
üMedan
fenomenal seseorang tidak dapat di ketahui oleh orang lain kecuali melalui
inferensi empatik, itupun pengetahuan yang di peroleh tidak bakal sempurnah
3.Self
merupakan bagian medan fenomena yang terdiri dari pola-pola pengamatan dan
penilaian sadar dari pada “I” atau “me”.
Self
mempunyai macam-macam sifat:
- Self
berkembang dari interaksi organisme dengan lingkunganya.
- Self
mungkin menginteraksi nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dlm cara
(bentuk) yang tidak wajar
- Self
mengejar (mengingingkan ) consistency (keutuhan / kesatuan, keselarasan)
- Organisme
bertingkah laku dlm cara yg selaras (consistent) dengan Self.
- Pengalaman-pengalaman
yang tak selaras dengan struktur self diamati sebagai ancaman.
- Self
mungkin berubah sebagai hasil dari pengamatan (maturation) dan belajar.
DINAMIKA
KEPRIBADIAN
A.Positive
regard
Dalam
self concept mencangkup gambaran siapa dirinya, siapa seharusnya dirinya, dan
siapa kemungkinan dirinya. Kesadaran memiliki konsep diri kemudian
mengembangkan positif regard: kebutuhan diri agar di terima baik, di cintai dan
di akui di lingkungan. Positive regard dari ide akan memuaskan bayi, sebalinya
tanpa positif ragard itu bayi menjadi frustasi dan menarik diri.
B. Self
consistency dan conruence
(misalnya
orang yang memandang dirinya cerdas mengalami event diri kelihatan bodoh).
Akibat dari diskripsi dan inconruence itu ad:
1)Individu
menyadari dan mengijingkan pengalaman itu masuk kekesadaran. Keadaan
incongruence itu akan menimbulkan ketegangan dan kebingungan.
2)Individu
yang tidak menyadari keadaan incongruence-nya , dia rentan mengalami anxiety
akibat inkonruence itu.
3)Individu
tidak mengijingkan pengalaman masuk ke sadaran. Individu juga mengalami
kecemasan masuknya discrepancy kesadaran
4)Individu
berusaha mempertahankan self-conceptnya dengan defense;(mengaburkan makna
asli suatu pengalaman ) atau dinilai mengingkari pengalaman yang pernah
masuk kekesadaran) .
C. Self
actualization
Freud
memandang organisme sebagai enerji, dan mengembangkan teori bagaimana enerji
psikis di timbulkan, ditransfer, dan di simpan. sedangkan Regers memandang
organisme terus menerus bergerak. Tujuan tingkah laku bukan untuk
mereduksi tegangan enerji tetapi mencapai aktualisasi diri.
Secara
alamiah kecenderungan aktualisasi diri itu aka menunjukkan diri melalui
rentangan luas tingkah laku yakni:
1)Tingkah
laku yang berakar pada proses fisiologik, termasuk kebutuhan dasar (air,
makan,udara).
2)Tingkah
laku yang berkaitan dengan motivasi psikologik menjadi diri sendiri,
menghasilkan perubahan lingkungan, proses aktif menjadikan sesuatu
bermain,mencipta, memulai.
3)Tingkah
laku yang alih-alih merendakan tegangan justru meningkatkan tegangan
yakni tigkah laku yg motivasinya untk berkembang menjadi lebih baik.
PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN
Full
functioning person
Pribadi
yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang memakai kapasitas dan
bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap
mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya.
Rogers
menggambarkan 5 ciri kepribadian yang berfungsi sepenuhnya sebagai berikut :
- terbuka
untuk mengalami dan mampu mendengar dirinya sendiri (openess to
experience).
- hidup
menjadi berkembang (existential living).
- Keyakinan
organismik, mengerjakan apa yg dirasanya benar (organismic trusting).
- Pengalaman
kebebasan (experiental freedom).
- kreativitas
(creativity)
Orang yg
sehat secara psikologis menurut Carl Rogers antara lain:
- Kemampuan
u/ menikmati hidup setiap saat
- Keinginan
u/ lebih mengikuti nalurinya dari pada orang lain.
- Kreatif
dan bebas u/ berfikir dan bertindak.
- Rogers
lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang
akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang
akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa
yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
4. MENURUT MASLOW
Abraham Maslow
adalah tokoh psikologi humanistik yang amat terkenal dengan bukunya mazhab ke
tiga yang banyak mengupas tentang manusia. Maslow termasuk psikolog profesional
yang banyak berorientasi pada aliran behavioris meskipun tidak bisa
meninggalkan aliran Freud dan Gestalt. Dalam melihat tingkah laku manusia,
banyak membahas tentang berbagai hal yang terkait dengan kebutuhan dasar.
Kebutuhan dasar tersebut tidak hanya sebagai kebutuhan material, motive) namun
juga bersifat spiritual. Kebutuhan manusia dimotivasi oleh dua dorongan yakni
motif kemunduran (deficiency motivation) dan motif perkembangan (growth
motivation). Orang yang tidak memiliki kesehatan mental yang baik akan
mudah terpuaskan kebutuhan dasarnya tersebut, dan orang yang memiliki penyakit
mental akan sulit untuk puas terhadap kebutuhan dasar, bahkan akan merasa
kurang terus menerus.
Menurut aliran humanistik, manusia sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat,
selalu bergerak ke arah pengungkapan potensi yang dimiliki apabila lingkungan
memungkinkan. Merupakan suatu gerakan yang berakar pada eksistensialisme
(setiap individu memiliki kekuatan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri
nasib/wujud keberadaan serta bertanggungjawab atas pilihan dan keberadaannya).
A. Pengaruh aliran eksistensialisme terhadap humanistik
1. Individu adalah penentu tingkah laku dan
pengalamannya sendiri (individu adalah agen yang sadar, bebas memilih atau
menentukan setiap tindakannya untuk menjadi makhluk bebas dan bertanggungjawab)
2. becomung, manusia tidak pernah diam, selalu
dalam proses untuk menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya, hal ini akan
terjadi jika lingkungan memungkinkan
3. Perspektif fenomenologis, pengalaman subyektif
sebagai fenomena yang utama, menekankan tentang kesadaran manusia, perasaan
subyketif dan pengalaman personal yang berkaitan dengan individu ketika dalam
berinteraksi dengan dunia sosialnya.
B. Ajaran Dasarnya
1. Individu sebagai keseluruhan yang integral.
Prinsip holistik, motivasi mempengaruhi individu secara keseluruhan, bukan
bagian, tidak ada kebutuhan perut atau mulut yang ada adalah kebutuhan individu
2. ketidakrelevanan penyelidikan dengan
menggunakan hewan sebagai percobaannya. Akan mengaburkan nilai kemanusiaan.
Hanya manusia yang pantas dijadikan subyek pemahaman tingkah laku
3. Pembawaan baik manusia, kejahatan karena hasil
lingkungan bukan merupakan pembawaan
4. Manusia memiliki potensi untuk kreatif asal
kingkungan mendukung.
5. Menekankan pada kesehatan psikologis
C. Kebutuhan Dasar manusia
Prinsip dari pemenuhan kebutuhan adalah mencapai homoestatis yakni
keseimbangan. Ada dua daerah kutub atas dan kutub bawah. Daerah kutub atas
dinamakan Being Needs dan daerah kutub bawah Defisit Needs. Daerah kutub atas
merupakan titik puncak tercapainya self aatualization sedang yang Difisit
needs merupakan kebutuhan yang mendasar (physiological needs, safety needs,
belonging needs dan esteem needs). Sedang B needs merupakan motivasi
pertumbuhan (kebutuhan untuk ada).
Kebutuhan manusia tersusun sebagai berikut:
1. Kebutuhan fisologis (faali/ physiological
needs),
Adalah kebutuhan terkait
dengan kelangsungan hidup manusia, kebutuhan yang pemuasannya tidak mungkin
ditunda. Kebutuhan dasar biologis ini antara lain adalah makan, minum,
istirahat, bernafas, keseimbangan temperatur, seks dan stimulasi sensorik.
Kebutuhan ini akan mendesak dalam pemuasannya dibandingkan dengan kebutuhan
yang lain. Manusia tidak beralih kepada kebuthan lain sebelum kebutuhan ini
terpenuhi. Misalnya seseorang yang lapar, ia bisa melakukan kegiatan apapun
untuk memenuhi dorongan perutnya bahkan mungkin perbuatan yang tidak normative.
Orang yang tidak sehat mentalnya pemenuha kebutuhan ini tidak pernah merasakan
kepuasan.
2. Kebutuhan akan rasa aman (need for self
security).
Kebutuhan ini
merupakan kebutuhan dasar kedua, yang muncul ketika kebutuhan fisiologis
terpuaskan. Adapaun yang termasuk kebutuhan ini adalah: keamanan, perlindungan,
ketergantungan, bebas dari rasa takut, cemas dan kekalutan, terganggu kebutuhan
rasa amannya maka yang muncul adalah sikap ekspresive atau dengan menarik diri
karena merasa takut dan terancam keselamatannya. Hal ini tidak akan terjadi
pada orang dewasa, kecuali orang yang terganggu (neurosis). Kebutuhan yang
harmonis adalah harapan anak untuk mendapatkan keamanan, sehingga suasana
menakutkan, seperti perpisahan, perceraian, tekanan fisik, kemarahan adalah hal
yang menakutkan.
3. Kebutuhan akan rasa cinta (need for love and
belongingness).
Dorongan ini
merupakan kebutuhan yang lebih meningkat lagi dari kebutuhan sebelumnya.
Kebutuhan ini terkait dengan keinginannya untuk berelasi dengan orang lain
secara efektif atau interaksi secara emosional, baik individu yang ada pada lingkungan
keluarga maupun individu lain diluarnya (masyarakat). Seorang individu akan
terasing dan merasa kesepian jika diasingkan oleh kelompoknya. Perasaan
cinta berorientasi pada kasih sayang bukan seksualitas seperti
psikoanalisis. Cinta adalah kebutuhan pokok bagi perumbuhan dan perkembangan
manusia. Jika terhambat atau tidak terpenuhi dapat menimbulkan salah
penyesuaian. Perasaan saling percaya adalah hubungan sehat, penuh kasih sayang
adalah bagian cinta yang sesungguhnya, yakni cinta yang memberi dan menerima.
4. Kebutuhan akan rasa dimiliki dan
memiliki (need for belonging)
Hubungan kasih sayang untuk saling memiliki merupakan kebutuhan dasar bagi
setiap individu. Cinta bukan berorientasi seks, melainkan lebih mengarah pada
rasa saying untuk saling memiliki secara psikologis. Tanpa cinat pertumbuhan
dan perkembangan kemampuan orang akan terhambat. Kekurangan cinta pada masa
pertumbuhan awal dapat menyebabkan kesulitan anak untuk melakukan penyesuaian
diri. Kebutuhan akan cinta adalah cinta yang memberi dan cinta yang menerima.
Adat kebudayaan seringkali membuat kita menghindari kemesraan, jelainan
persahabatn hanya bersifat dangkal, meremehkan dan tidak menghargai orang lain.
Jika cinta tidak dimunculkan dalam melakukan interaksi dengan sesama manusia
maka yang muncul adalah gelombang permusuhan dan kebencian.
5. Kebutuhan akan harga diri (need for self
esteem)
Penghargaan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap individu untuk dapat
dipenuhi. Individu yang terpenuhi kebutuhan akan penghargaan akan muncul
perasaan positif terhadap dirinya sehingga akan terhindar dari gangguan
patologis. Lingkungan sosial serta budaya yang memberikan penghargaan positif
pada seseorang dapat menimbulkan perasaan dimiliki sehingga akan muncul perasaan
memiliki lingkungan. Buadaya yang menolak dan tidak memiliki individu maka juga
akan ditolak oleh individu sendiri.
Kebutuhan
ini berasal dari dua hal, pertama (berasal dari diri sendiri), keinginan atau
kekuatan, prestasi, kecukupan, keunggulan, kemampuan dan kepercayaan diri.
Kedua (berasal dari lorang lain), yakni: nama baik, gengsi, status, ketenaran,
prestise dan kemuliaan, dominasi, pengakuan, perhatian, martabat atau
apresiasi. Seseorang yang memiliki harga diri yang cukup akan memiliki
kepercayaan diri yang tinggi serta lebih produltif, sementara orang yang
tidak memiliki harga diri aka n diliputi rasa tidak berdaya yang berakibat pada
keputusasaan dan perilaku neurotik. Harga diri yang stabil dan sehat tumbuh dan
berkembang dalam penghargaan yang wajar dari orang lain, bukan karena nama
harum, kemasyhuran serta sanjungan yang kosong. (Maslow) Suatu sifat dapat
dipandang sebagai kebutuhan dasar jika memenuhi syarat:
1. Ketidakhadirannya menimbulkan penyakit
2. Kehadirannya mencegah penyakit
3. Pemulihannya menumbuhkan penyakit
4. Dalam keadaan kekurang lebih diuatamakan
5. Bagi orang yang sakit kebutuhan tersebut
menjadi lemah
Meskipun seseorang telah terpenuhi semua kebutuhan, banyak yang tidak merasa terpuaskan,
sehingga muncul kegelisahan, perasaan ini muncul karena kualitas potensi
yang ada pada dirinya belum teraktualisasi. Dorongan aktualisasi diri muncul
dari dalam dirinya, tidak terpengaruh oleh factor luar dirinya. Dorongan
aktualisasi diri memiliki hambatan, baik internal maupun eksternal.
Hambatan internal berasal dari diri sendiri, antara lain ketidaktahuan akan
potensinya, keraguan, perasaan takut untuk mengungkapkan potensinya. Hambatan
eksternal berasal dari budaya masyarakat yang kurang mendukung. Aktualisasi
diri merupakan kebutuhan yang paling tinggi tingkatannya. Aktualisasi diri
didorong oleh kebutuhan yang bernilai tinggi atau metamotivation (Being
Values). Kebutuhan manusia didorong oleh dua motivasi, yakni motivasi
kekurangan (deficiency motivation) dan motivasi pertumbuhan (growth
motivation). Dalam basic needs, kebutuhan tersebut bersifat kerarkhis, namun
dalam kebutuhan pertumbuhan tidaklah demikian. Individu yang terhambat dalam
metamotivation akan mengalami gangguan metapathology. Dua arah pilihan hidup
manusia, yakni maju atau mundur (Progessive choice dan regressive choice).
Motive pertumbuhan mengarah pada progressive choice dan sebaliknya motive
kemunduran mengarah pada regressive choice. Adapun karakteristik orang yang mengaktualisasikan
diri adalah: mampu melihat realita secara efisien, penerimaan terhadap diri
sendiri, orang lain dan kodrat, spontanitas, kesederhanaan dan kewajaran,
terpusat pada persoalan, memisahkan diri (kebutuhan akan kesendirian, otonom,
kesegaran dan aspirasi yang berkelanjutan, pengalaman puncak, kesadaran social,
hubungan interpersonal, struktur watak demokratis, membedakan antara cara
dengan tujuan, memiliki rasa humor yang filosofis dan tidak meimbulkan
permusuhan, kreatifitas, memiliki daya tahan terhadap kebudayaan
D. Kemampuan manusia
Manusia memiliki kemampuan untuk bersikap kreatif, spontan, penuh perhatian
pada orang lain, penuh rasa ingin tahu, kemampuan untuk berkembang secara terus
menerus serta kemampuan untuk mencintai dan dicintai. Pengalaman masa lampau
akan hadir pada masa kini dalam diri setiap orang.
Manusia memiliki kapasitas untuk tumbuh, namun banyak sekali kemampuan yang
mestinya berkembang secara maksimal menjadi gagal dan tidak tumbuh. Beberapa
penyebanya antara lain adalah:
1. Lemahnya naluri untuk tumbuh, akibatnya benih
untuk tumbuh menjadi lemah tak berdaya yang disebabkan oleh kebiasaan buruk,
lingkungan budaya atau pendidikan yang tidak memedai
2. Ketakutan pada naluri-naluri, karena mamandang
semua naluri bersifat kebinatangan.
3. Pengaruh negatif kebutuhan akan rasa aman dan
perlindungan yang sangat rendah
4. Adanya keragu-raguan pada kemampuan yang
dimiliki
5. Hambatan lingkungan dan budaya
E. Kepribadian dan perkembangan psikologis
Menurut Maslow kepribadian adalah kemampuan psikologis seseorang untuk
memenuhi dua tuntutan kebutuhan dasar manusia yakni D needs dan B needs yang
dipengaruhi oleh factor social dan budaya. Orang yang terpuaskan
kebutuhan dasar ternyata lebih sehat, lebih efektif, sedangkan orang yang
kebutuhan dasarnya tidak terpuaskan menunjukkan gejala psikopatologis.
Individu yang memiliki kepribadian masak akan memiliki penghargaan yang sehat
terhadap dirinya sendiri, tidak bergantung pada orang lain (inferiority).
Pengahrgaan yang diterima dari orang lain merupakan sesuatu yang memang layak
untuk diterimanya. Mereka tidak membutuhkan ketenanran atau kemasyhuran yang
kosong (semu), memiliki mental yang kokoh serta kontrol diri yang baik, mampu
menerima kelemahan dan kesalahan diri dengan sikap positif
Individu yang memiliki kesehatan secara psikologis memiliki sifat saangat
mandiri dan mencintai orang lain, memiliki keinginan yang sehat untuk perluasan
diri dan mereka banyak dikendalikan oleh perintah-perintah bathin, oleh fitrah
sendiri, oleh kebutuhan alamiah, daripada oleh masyarakat atau
lingkungannya. Kepribadian yang sehat akan menemukan kebahagiaan dalam membantu
orang lain serta tidak mengalami kebingungan untuk membedakan mana yang benar
dan mana yang salah. Perkembangan psikologis mahnusia, manusia yang bisa
mencapai being needs ternyata jumlahnya tidak banyak (2 %) dari populasi.
Manusia yang mencapai being needs bias membedakan mana yang pura-pura dan mana
yang nyata. Melihat persoalan kehidupan sebagai suatu yang harus dicari jalan
keluarnya bukan sebagai takdir pribadi yang harus diterima dan pasrah. Memiliki
persepsi yang berbeda mana yang dipakai sebagai alat dan mana tujuan.
Memiliki cara yang berbedadalam bergaul dengan orang lain.
F. Pentingnya Pendidikan
Dalam pendidikan Maslow tetap memandang pentingnya masa kanak-kanak. Bayi-bayi
yang pada usia 18 bulan pertama tidak mendapatkan kasih sayang akan tumbuh
menjadi pribadi yang psikopath. Anak yang ditolak setengah-setengah akan
menunjukkan tingkah laku dengan cara sikap kehausan terhadap kasih sayang.
Sedangkan anak yang sejak awal ditolak tidak menunjukkan cinta kasih melainkan
sikap dingin dan kesan tidak memiliki kebutuhan akan kasih sayang sedikitpun.
Tahun pertama dalam perkembangan anak merupakan tahun pembentukan watak.
Pemberian kasih sayang yang disarankan adalah dengan memberikan kebebsan dalam
batas-batas. Orang tua yang diktator, menindas, mengekang anak mengakibatkan
perkembangan anak mengalami hambatan sehungga anak tidak dapat mengembangkan
kepribadiannya sendisi secara maksimal. Anak akan mengalami hambatan dalam
penyesuaian diri. Anak yang sehat akan senang tumbuh dan mengalami kemajuan,
memperoleh ketrampilan-ketrampilan, kapasitas-kapasitas serta kekuatan-kekuatan
baru.
Pendidikan formal maupun informal memainkan peranan penting dalam mengembangkan
watak. Dua tahun pertama kehidupan seseorang memiliki perannan yang amat
penting. Pada awal tahun ini, jika anak merasa aman dan kuat maka dalam
perkembangannya cenderung memiliki keamanan dalam mengahadpi berbagai ancaman
di masa mendatang. Kebutuhan akan kebebasan untuk tumbuh, belajar dan menemukan
diri serta mengembangkan ketrampilan-ketrampilan bukan berarti kebebasan tanpa
aturan. Kedisiplinan, tata tertib, batas-batas serta kesepakatan untuk belajar
memahami, mengendalikan menyalurkan dan mengatasi frustrasi merupakan sesuatu
yang harus ditegakkan.
Orang tua harus menghindarkan diri dari sikap melindungi dan memanjakan anak
secara berlebihan sampai-sampai segala sesuatu yang dibutuhkan anak disediakan
tanpa anak harus berusaha, Anak semacam itu tidak akan berkembang menjadi
pribadi kuat dan mandiri. Akan melahirkan anak yang memiliki kecenderungan
memperalat orang lain, bukan menghormatinya.
Anak yang dimanjakan dan merasa tidak aman cenderung lengket pada ibunya yang
melambangkan rasa aman srta perlindungan. Namun justru itulah yang akan
menyebabkan kegagalan dalam melakukan eksplorasi, berpetualang, belajar
berkembang. Proses mendidik harus mampu mengembangkan disiplin diri,
sponatnitas dan kreativitas.
G. Kepribadian yang sehat dan orang yang mengaktualisasi
Kepribadian yang sehat merupakan proses yang diperoleh melalui perjalanan
panjang, baik melalui pengalaman belajar dengan lingkungan, lewat pengasuhan
maupun pengaruh social budaya dimana individu berada. Kepribadian sehat
ditandai dengan berbagi ciri antara lain:
1. Memiliki kemampuan dalam menyesuaikan diri
2. Disiplin dan tanggungjawab
3. Menghargadi diri dan orang lain
4. Dinamis
5. Tidak senang konflik
6. Memiliki rasa humor yang tinggi
Aktualisasi diri merupakan keadaan puncak dimana orang telah mencapai
keadaan akhir suatu tujuan jangka panjang, bukan suatu proses yang dinamis.
Bukan kehidupan untuk memiliki melainkan pada kebutuhan untuk menjadi. Mereka
mampu melihat hidup secara jernih, melihat hidup apa adanya bukan menurut
keinginan mereka, tidak bersikap emosional dan obyektif terhadap hasil
pengamatnnya.
Berbagai pandangan Maslow mengenai kebutuhan manusia maka ada beberapa cirri
atau tanda individu yang telah mencapai titik puncak aktualisasi adalah
sebagai berikut:
1. Bersikap obyektif dan tidak emosional
Pribadi yang teraktualisasi memiliki kemampuan dalam
melihat kehidupan secara jernih, melihat hidup bukan karena keinginannya
melainkan karena kuwajibannya. Mereka tidak emosional, bersikap obyektif
terhadap apa yang diamati
2. Memiliki pengertian tentang benar dan salah
Orang yang teraktualisasi dirinya pemikirannya tentang
kebenaran dan kesalahan adalah apa adanya, sehingga mereka mampu meramalkan
persitiwa yang bakal terjadi. Mereka mampu melihat realitas-realitas yang
tersembunyi serta lebih cepat bergerak dibanding kebanyakan orang
3. Memiliki sifat rendah hati
Kepribadian yang teraktualisasi memiliki sifat rendah
hati, mampu mendengarkan orang lain dengan rasa rendah hati dan penuh
kesabaran. Mau mengakui bahwa banyak kelemahan yang dimiliki, mereka tidak tahu
segala-galanya, orang lain akan mampu mengajari mereka sesuatu yang ia tidak
memiliki
4. Terhindar dari gangguan psikologis
Pribadi yang teraktualisasi akan jauh dari tekanan
mental serta frustrasi. Merak hidup bukan untuk dirinya melainkan untuk orang
lain secara universal, mereka memiliki hasrat yang maju dan positif sehingga
mereka terhindardari perasaan cemas, konflik dan frustrasi. Mereka memiliki
penilaian yang bebas being cognition.
5. Mengabdikan hidupnya untuk pekerjaan
Pribadi yang teraktualisasi memiliki sikap hidup yang
dinamis, cinta terhadap pekerjaan sera memiliki loyalitas yang tinggi. Mereke
berfikir apa yang dilakukan bukanlah untuk hari ini melainkan untuk kehidupan
yang lebih panjang. Bekerja memberikan kebahagiaan dan kenikmatan, sehingga
pekerjaan dilakukan dengan baik dan penuh tanggungjawab serta disiplin tinggi
bahkan sering menunda kenikmatan
6. Memiliki kreativitas
Sifat yang terkait dengan kreativitas antara lain
adalah flexible, spontanitas, memeliki keberanian serta tidak takut membuat
kesalahan, penuh keterbukaan serta kerendahan hati. Pribadi yang demikian tidak
kehilangan dalam melakukan pendekatan sehingga sosialisasi menjadi positif .
7. Memiliki spontanitas
Spontanitas hampir memiliki arti yang sama denga
kreativitas. Pribadi ini memiliki sikap ekspresif, wajar dan polos. Perilakunya
dikerjakan apa yang ada sesuai keadaan dirinya bukan untuk mencari penghargaan
melainkan apa yang dilakukan merupakan spontanitas apa yang dimilikinya.
8. Kadar konflik yang rendah
Pribadi yang teraktualisasi memiliki kepercayaan serta
penghargaan diri yang tinggi. Mereka tidak berperang melawan diri, pribadinya
menyatu sehingga kadar konfliknya rendah. Mereka memiliki energi untuk
kegiatan-kegiatan yang produktif. Mereka lebih banyak dikendalikan oleh
perintah fitrah batinnya bukan kebutuhan alamiah dari tuntutan masyarakat atau
lingkungannya.
Kebanyakan neurosis berkaitan dengan kebutuhan rasa aman dan hubungan dengan
orang lain seperti kebutuhan akan penghargaan, penerimaan rasa memiliki dan
dimiliki. Kepribadian yang sakit adalah orang yang tidak pernah berhasil
menjalin relasi–relasi manusiawi yang baik. Menurut Maslow Neurosis merupakan
gangguan gangguan rokhani karena kehilangan makna, keragu-raguan tentang tujuan
hidup, kepedihan serta amarah atas cinta yang hilang, ia melihat hidup dengan
cara yang lain, kehilangan keberanian atau harapan, keputusasaan dalam
mengahadpi masa depan, kebencian terhadap diri sendiri, menyendiri,
menyia-nyiakan hidup dan tidak memiliki kegembiraan.
Kepribadian seperti itu secara fisik bisa dikatakan sudah matang, namun secara
psikologis terbelakang, tidak mampu meninggalkan masa kanak-kanak, takut
terhadap hukuman dan tidak mampu berhubungan dengan orang lain dengan sehat.
Munculnya konflik antar individu bermula dari adanya konflik bathin antara
kematangan dan ketidakmatangan, antara tangguangjawaban dan sikap semaunya
sendiri antara dorongan dan kontrol diri anatar hasrat diri dan tuntutan
masyarakat. Semuanya itu merupakan efek samping dari masalah komunikasi di
dalam individu sendiri.
5.
MENURUT FROMM
Dasar teori Fromm hampir sama
dengan Freud, Ia setuju dengan Freud yang Pengertian dasar teori Fromm
menekankan pentingnya motivasi, tetapi ia tidak sependapat bahwa
motivasi itu pertama-tama bersifat instingtif. Fromm berpendapat bahwa selain
manusia terdorong untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan organic, manusia juga
terdorong menjadi masyhur dan berkuasa, untuk cinta dan untuk merealisasikan
cita-cita religius dan humanistik.
Secara singkat, teori kepribadian yang digagas Fromm sebagai berikut:
Kebebasan manusia yang semakin luas, menempatkan manusia merasa semakin
kesepian, dengan kata lain kebebasan menjadikan keadaan yang negatif di mana
manusia-manusia melarikan diri.
Manusia selalu berusaha memecahkan kontradiksi-kontradiksi yang ada
padanya. Maksudnya bahwa seorang pribadi merupakan bagian sekaligus terpisah
dari alam; merupakan binatang, dan sekaligus manusia.
Aspek individu, yakni aspek
binatang dan aspek manusia merupakan kondisi-kondisi dasar eksistensi manusia,
yang berasumsi bahwa, “pemahaman tentang psikhe manusia harus
berdasarkan manusia tentang kebutuhan manusa yang berasal dari kondisi-kondisi
eksistensinya.
Kepribadian orang akan berkembang menurut kesempatan yang diberikan
kepadanya oleh masyarakat tertentu.
Sebagai manusia tidak lepas
dari pasangan tipe karakter nekrofilus danbiofilus.
Nekrofilus adalah orang yang tertarik pada kematian, sedangkanbiofilus adalah
orang yang mencintai kehidupan.
Sekarang ini lima tipe masyarakat sudah sdemikian menggenjala, berbeda
dengan masa-masa sebelumnya, seperti reseptif, eksploitatif, penimbunan,
pemasaran, dan produktif.
Kepribadian yang Sehat Menurut
Fromm
Fromm memberikan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat.
Orang yang demikian mencintai seutuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan
pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara obejektif,
memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan dan berakar di
dunia, subjek atau pelaku dari diri dan takdir, dan bebas dari ikatan-ikatan
sumbang.
Fromm menyebutkan kepribadian
yang sehat: orientasi produktif , yakni suatu konsep
yang serupa dengan kepribadian yang matang dari Allport, dan orang yang
mengaktualisasikan diri dari Maslow. Konsep itu menggambarkan penggunaan yang
sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata
“orientasi” , Fromm menunjukan kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi
pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respons-respons intelektual,
emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan
peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri sendiri.
Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat membantu
menjelaskan apa yang dimaksudkan Fromm dengan orientasi produktif. Keempat segi
tambahan itu adalah cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagian
dan suara hati.
Cinta yang produktif adalah
suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana rekan-rekan dapat
mempertahankan individualitas mereka. Tercapainya cinta yang produktif
merupakan salah satu dalam prestasi-prestasi kehidupan yang lebih sulit. Kita
tidak “jatuh” dalam cinta; kita harus berusaha sekuat tenaga karena cinta yang
produktif menyangkut empat sifat yang menantang – perhatian, tanggung jawab,
respek, dan pengetahuan.
Pikiran yang produktif meliputi
kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir yang produktif didorong
oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pemikir yang produktif
dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya.
Kebahagian adalah
suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi
produktif; kebahagian itu menyertai seluruh kegiatan produktif. Fromm
menuliskan bahwa suatu perasaan kebahagian merupakan bukti bagaimana
berhasilnya seseorang “dalam seni kehidupan”. Kebahagian merupakan prestasi
kehidupan yang paling luhur.
Suara hati memiliki
dua tipe, yakni suara hati otoriter dan suara hati humanisti. Suara hati
otoriter adalah penguasa yang berasal dari luar yang di internalisasikan, yang
memimpin tingkah laku orang itu. Sedangkan suara hati humanistis ialah suara
dari dalam diri dan bukan juga dari suatu perantara dari luar diri. Pendoman
kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internak dan individual. Orang
bertingkah laku sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi sepenuhnya dan
menyikapi seluruh kepribadian, tingkah laku-tingkah laku yang menghasilkan
seluruh persetujuan dan kebahagian dari dalam. Kesehatan jiwa dalam pandangan
Fromm di tetapkan oleh masyarakat, karena kodrat struktur sosial membantu atau
menghalangi kesehatan psikologis. Apabila masyarakat-masyarakat yang sakit,
maka satu-satunya cara untuk mencapai orientasi produktif ialah dengan hidup
dalam suatu masyarakat yang waras dan sehat, yaitu masyarakat yang memajukan
produktivitas.
Ciri-ciri Kepribadian Sehat
Menurut Fromm, orang yang berkepribadian sehat memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Mampu mengembangkan hidupnya sebagai
makhluk sosial di dalam masyarakat.
2. Mampu mencintai dan dicintai.
3. Mampu mempercayai dan dipercayai tanpa
memanipulasi kepercayaan itu,
4. Mampu hidup bersolidaritas dengan orang
lain tanpa syarat.
5. Mampu menjaga jarak antar dirinya
dengan masyarakat tanpa merusaknya.
6. Memiliki watak sosial yang produktif.
DAFTAR PUSTAKA
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: KANISUS
Hall S, C & Lindzey G. (1993). Teori-Teori Psikodinamik (Klinis).
Kanisius: Yogyakarta.