universitas gunadarma

universitas gunadarma

Senin, 11 April 2016

TUGAS 2 KESEHATAN MENTAL



TUGAS 2 KESEHATAN MENTAL
NAMA: NABELLA PRATIWI WD
NPM: 1D514023
KELAS: 2PA16

1. ALIRAN HUMANISTIK
Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force) karena humanistik muncul sebagai kritik terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik ala behaviorisme dan pesimistik ala psikoanalisa.
Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.
Kepribadian yang sehat menurut humanistik, perilaku yang mengarah pada aktualisasi diri:
1) Menjalani hidup seperti seorang anak, dengan penyerapan dan konsentrasi sepenuhnya.
2) Mencoba hal-hal baru ketimbang bertahan pada cara-cara yang aman dan tidak berbahaya.
3) Lebih memperhatikan perasaan diri dalam mengevaluasi pengalaman ketimbang suara tradisi, otoritas, atau mayoritas.
4) Jujur; menghindari kepura-puraan dalam “bersandiwara”.
5) Siap menjadi orang yang tidak popular bila mempunyai pandangan sebagian besar orang.
6) Memikul tanggung jawab.
7) Bekerja keras untuk apa saja yang ingin dilakukan.

2. MUNURUT ALLPORT
Allport ingin menghilangkan kontradiksi-kontradiksi dan kekaburan-kekaburan yang terkandung dalam pembicaraan-pembicaraan tentang “diri” dengan membuang kata itu dan menggantikannya dengan suatu kata lain yang akan membedakan konsepnya tentang “diri” dari semua konsep lain. Istilah yang dipilihnya adalah proprium dan dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam kata “appropriate”.
Proprium menunjuk kepada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti bahwa proprium (self) terdiri dari hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Allport menyebutnya “saya sebagaimana dirasakan dan diketahui”.
Proprium berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat “diri”. Apabila semua segi perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi-segi tersebut dipersatukan dalam suatu konsep proprium. Jadi proprium adalah susunan dari tujuh tingkat “diri” ini. Munculnya proprium merupakan suatu prasyarat untuk suatu kepribadian yang sehat.
“Diri” jasmaniah. Kita tidak dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri. Bayi itdak dapat membedakan antara diri (“saya”) dan dunia sekitarnya. Kira-kira pada usia 15 bulan, maka muncullah tingkat pertama perkembangan proprium diri jasmaniah. Kesadaran akan “saya jasmaniah” misalnya bayi membedakan antara jari-jarinya dan sebuah benda yang dipegang dalam jari-jarinya.
Identitas diri. Pada tingkat kedua perkembangan, muncullah perasaan identitas diri. Anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang terpisah. Anak mempelajari namanya, menyadari bahwa bayangan dalam cermin adalah bayangan yang sama seperti yang dilihatnya kemarin, dan percaya bahwa perasaan tentang “saya” atau “diri” tetap bertahan dalam menghadapi pengalaman-pengalaman yang berubah-ubah.
Harga diri. Tingkat ketiga dalam perkembangan proprium ialah timbulnyaharga diri. Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Allport percaya bahwa hal ini merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan, apabila orang tua menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang timbul dapat dirusakkan. Akibatnya dapat timbul perasaan dihina dan marah.
Perluasan diri (self extension). Tingkat perkembangan diri berikutnya adalah perluasan diri, mulai sekitar usia 4 tahun. Anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diantaranya adalah milik anak tersebut. Anak berbicara tentang “kepunyaanku”, ini adlah permulaan dari kemampuan orang untuk memperluas dirinya, untuk memasukkan tidak hanya benda-benda tetapi juga abstraksi-abstraksi, nilai-nilai, dan kepercayaan-kepercayaan.
Gambaran diri. Gambaran diri berkembang pada tingkat berikutnya. Hal ini menunjukkan bagaimana anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini berkembang dari interaksi-interaksi antara orangtua dan anak. Lewat pujian dan hukuman anak belajar bahwa orangtuanya mengharapkan supaya menampilkan tingkah laku-tingkah laku tertentu dan manjauhi itngkah laku-tingkah laku lain. Dengan mempelajari harapan-harapan orangtua, anak mengembangkan dasar untuk suatu perasaan tanggung jawab moral serta untuk perumusan tentang tujuan-tujuan dan intensi-intensi.
Diri sebagai pelaku rasional. Setelah anak mulai sekolah, diri sebagai pelaku rasional mulai timbul. Aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru dan teman-teman sekolah serta hal yang lebih penting ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan intelektual. Anak belajat bahwa dia dapat memecahkan masalah-masalah dengan menggunakan proses-proses yang logis dan rasional.
Perjuangan proprium (propriate striving). Dalam masa adolesensi, perjuangan proprium (propriate striving), tingkat terakhir tingkat terakhir dalam perkembangan diri (selfhood) timbul. Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat menentukan. Orang sibuk dalam mencari identitas diri yang baru, segi yang sangat penting dari pencarian identitas ini adalah definisi suatu tujuan hidup. Pentingnya pencarian ini yakni untuk pertama kalinya orang memperhatikan masa depan, tujuan-tujuan dan impian-impian jangka panjang.
Perkembangan dari daya dorong kedepan, intensi-intensi, aspirasi-aspirasi, dan harapan-harapan orang itu mendorong kepribadian yang matang. “sasaran-sasaran yang menentukan” ini dalam pandangan Allport sangat penting untuk kepribadian sehat.
Tujuh tingkat diri atau proprium ini berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi. Suatu kegagalan atau kekecewaan yang hebat pada setiap tingkat melumpuhkan penampilan tingkat-tingkat berikutnya serta menghambat integrasi harmonis dari tignkat-tingkat itu dalam proprium. Dengan demikian pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak sangat penting dalam perkembangan kepribadian yang sehat.
7 Kriteria Kematangan
Tujuh criteria kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat.
1). Perluasan Perasaan Diri
Ketika diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mula-mula diri berpusat hanya pada individu kemudian diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan citi-cita yang abstrak. Orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menamakan hal ini “pertisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas.
Menurut Allport, suatu aktivitas harus relevan dan penting bagi diri; harus berarti sesuatu bagi orang itu. Apabila anda mengerjakan suatu pekerjaan karena anda percaya bahwa pekerjaan itu penting, menantang kemampuan, membuat anda merasa enak, maka anda merupakan seorang partisipan otentik dalam pekerjaan itu. Aktivitas itu lebih berarti daripada pendapatan yang diperoleh dan memuaskan kebutuhan-kebuthan lain juga.
Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau orang atau ide, maka ia semakin sehat secara psikologis. Diri menjadi tertanam dalam aktivitas-aktivitas yang penuh arti dan menjadi perluasan perasaan diri.
2). Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu.
Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orangtua, anak, partner, teman akrab. Apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkembang baik, syarat lain bagi kapasitas keintiman adalah suatu perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik.
Ada perbedaan antara hubungan cinta dari orang yang neurotis dengan hubungan cinta dari kepribadian-kepribadian yang sehat. Orang-orang yang neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinya. Apabila mereka membari cinta, maka cinta itu diberikan dengan syarat-syarat dan kewajiban-kewajiban yang bersifat timbal balik. Cinta dari orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan, atau mengikat.
Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan-penderitaan, ketakutan-ketakutan, dan kegagalan-kegagalan yang merupakan cirri kehidupan manusia. Empati ini timbul melalui “perluasan imajinatif” dan perasaan orang sendiri terhadap kemanusiaan pada umumnya.
Sebagai hasil dari kapasitas perasaan terharu, kepribadian yang matang sabar terhadap tingkah laku orang-orang lain dan tidak mengadili atau menghukumnya. Orang yang sehat menerima kelemahan-kelemahan manusia, dan mengetahui bahwa dia memiliki kelemahan-kelemahan yang sama. Akan tetapi, orang yang neurotis tidak sabar dan tidak mampu memahami sifat universal dari pengalaman-pengalaman dasar manusia.
3). Keamanan Emosional
Kepribadian-kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi-emosi manusia. Kepribadian-kepribadian yang sehat mengontrol emosi-emosi mereka, sehingga emosi-emosi ini tidak mengganggu aktivitas-aktivitas antarpribadi, emosi-emosi diarahkan kembali ke dalam saluran-saluran yang lebih konstruktif. Akan tetapi orang-orang yang neurotis menyerah pada emosi apa saja yang dominant pada saat itu, berkali-kali memperlihatkan kemarahan atau kebencian.
Kualitas lain dari keamanan emosional ialah apa yang disebut Allport “sabar terhadap kekecewaan”. Orang-orang yang sehat sabar menghadapi kemunduran-kemunduran, tidak menyerah diri kepada kekecewaan, tetapi mampu memikiran cara-cara yang berbeda, yang kurang menimbulkan kekecewaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama atau tujuan-tujuan substitusi.
4). Persepsi Realistis
Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya, orang-orang yang neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka sendiri. Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.
5). Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu, suatu tingkat kemampuan. Kita harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara ikhlas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita.
Allport mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan menjadi neurotis, akan tetapi tidak mungkin menemukan orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan keterampilan mereka pada pekerjaan mereka. Allport mengutip apa yang dikatakan Harvey Cushing, ahli badah otak yang terkenal, “satu-satunya cara untuk melangsungkan kehidupan adalah menyelesaikan suatu tugas”.
Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitis untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting melakukannya dengan dedikasi, komotmen, dan keterampilan-keterampilan.
6). Pemahaman Diri
Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif.
Orang yang memilii suatu tingkat pemahaman diri (self objectification) yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.
7). Filsafah Hidup yang Mempersatukan
Bagi Allport rupanya mustahil memiliki suatu kepribadian yang sehat tanpa aspirasi-aspirasi dan arah ke masa depan. Allport menekankan bahwa nilai-nilai (bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan.
Memiliki nilai-nilai yang kuat, jelas memisahkan orang yag sehat dari orang yang neurotis. Orang yang neurotis tidak memiliki nilai-nilai atau hanya memiliki nilai-nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara sehingga tidak cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan semua segi kehidupan.
Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Suara hati yang tidak matang atau neurotis sama seperti suara hati kanak-kanak, yang patuh, membudak, penuh dengan pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa. Sedangkan suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tangggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain.

3. MENURUT ROGERS
Carl Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, illionis, sebuah daerah pinggiran Chicago.Masuk psikologi klinis di Columbia University dan menerima gelar Ph.D thn 1931.
Tahun 1942, dia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy.
Pada thn 1945 dia di undang untk mendirikan pusat konseling di Universitas of Chicago.
Tahun 1946-1957 menjadi Presiden the American Psychological Association.
Dia meninggal pd thn 1987.
KONSEP KEPRIBADIAN
  • Tingkah laku manusia hanya dapat dipahami dari bagaimana dia memandang realita secara subyektif.
  • Bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri.
  • Manusia itu Bebas, Rasional, Utuh, mudah berubah, sebjektif, heterostatis, dan sukar di pahami.
  • Tori Rogers adalah memanusiakan manusia.
  • Rogers terkenal dengan terapy client-centered therapy
Rogers adalah orang yang pertama melibatkan peneliti ke dalam sesi terapi (memakai tape recorder) yang pada tahun 1940 membuka sesi klien untuk di cermati orang lain.
Tekniknya mudah di pahami dan banyak bermanfaat bagi klien, sehingga tersebar luas di kalangan konselor pendidikan, konselor dan bimbingan dan pekerja sosial.
Untuk mempergunakannya di butuhkan sedikit atau tanpa pengetahuan mengenai diagnosis dan dinamika kepribadian.
Menurut Rogers ada 19 hakekat Pribadi (self):
1.Setiap organisme berada dlm dunia pengalaman yang terus-menerus berubah.
2.Organisme menanggapi dunia sesuai dgan persepsinya.
3.Organisme mereaksi medan fenomena secara total.
4.Organisme mempunyai kecendrungan pokok yakni keinginan untk self aktualisasi diri.
5.Pd dasarnya tingkah laku merupakan usah yg berarah tujuan untk memuaskan kebutuhan-kebutuhan.
6.Emosi akan menyertai tingkah laku dan seberapa penting tingkah laku dlm usaha aktualisasi diri.
7.Untk memahami tingkah laku seseorang itu harus memandang orang itu sendiri.
8.Self adlh kesadaran akan keberadaan dan fungsi diri, yg di peroleh melalui pengalaman di mana diri(“I” atau “me”).
9.Self struktus adlh suatu pola pangamatan yg bersifat utuh/ bulat, teratur mudah bergerak dan selalu konsisten dalam nilai-nilai lingkungan.
10. Apabila terjadi konflik dgn nilai-nila, maka orgnisme akan merevisi gambaran dirinya dan di asimilasi.
11. Pengalaman yg terjadi dalam kehidupan seseorang maka akan di proses: disimbulkan, diabaikan, diingkari atau di kaburkan.
12. Umumnya TL konsisten dgan self-concept.
13. TL yg di dorong oleh kebutuhan organis yg tidak di lambangkan, bisa tidak konsisten dgan self.
14. Organisme menolak menyadari pengalaman sensorik yg tdk dpat disimbulkan dan di susun dlm kesatuan self-structurya.
15.Psyhological adjusment terjadi apabila dapat menampung semua pengalaman dlam konsep diri.
16.Setiap pengalaman yg tidak sesuai dgn self-structure akan di amati sebagai  ancaman (theat).
17.Khusus dlm kondisi bebes dari ancaman struktur self  dapat di amati dan di uji.
18.Apabila organisme mengamati dan menerima semua pengalaman orang lain maka dia akan lebih mengerti individu yg berbeda.
19.Semakin banyak  individu mengamati dan menerima pengalaman sensorik ke dalam selfnya kemungkinan nilai-nilai semakin besar.
STURKTUR KEPRIBADIAN
1.Organism
ØOrganism adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat semua pengalaman dan segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadar setiap saat.
ØSubyjective reality Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya. Realita adalah medan persepsi yang sifatnya subjektif, bukan benar-salah.
ØHolism ad/  organisme adalah satu kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian yang lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi dan bertujuan, yakni tujuan aktualisasi diri, mempertahankan diri dan mengembangkan diri.
2. Phenomenal field (medan fenomenal): keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun eksternal, di sadari maupun  tidak di sadari antara lain:
üpengalama internal (persepsi mengenai diri sendiri) dan pengalama eksternal (persepsi mengenai dunia luar).
üMeliputi pengalama yang disimbulkan (di amati dan di susun dalam kaitanya dengan diri sendiri).
üSemua persepsi bersifat subyektif, benar bagi diri sendiri.
üMedan fenomenal seseorang tidak dapat di ketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empatik, itupun pengetahuan yang di peroleh tidak bakal sempurnah
3.Self merupakan bagian medan fenomena yang terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar dari pada “I” atau “me”.
Self  mempunyai macam-macam sifat:
  • Self berkembang dari interaksi organisme dengan lingkunganya.
  • Self mungkin menginteraksi nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dlm cara (bentuk) yang tidak wajar
  • Self mengejar (mengingingkan ) consistency (keutuhan / kesatuan, keselarasan)
  • Organisme bertingkah laku dlm  cara yg selaras (consistent) dengan Self.
  • Pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self diamati sebagai ancaman.
  • Self mungkin berubah sebagai hasil dari pengamatan (maturation) dan belajar.
DINAMIKA KEPRIBADIAN
A.Positive regard
Dalam self concept mencangkup gambaran siapa dirinya, siapa seharusnya dirinya, dan siapa kemungkinan dirinya. Kesadaran memiliki konsep diri kemudian mengembangkan positif regard: kebutuhan diri agar di terima baik, di cintai dan di akui di lingkungan. Positive regard dari ide akan memuaskan bayi, sebalinya tanpa positif ragard itu bayi menjadi frustasi dan menarik diri.
B. Self consistency dan conruence
(misalnya orang yang memandang dirinya cerdas mengalami event diri kelihatan bodoh). Akibat dari diskripsi dan inconruence itu ad:
1)Individu menyadari dan mengijingkan pengalaman itu masuk kekesadaran. Keadaan incongruence itu akan menimbulkan ketegangan dan kebingungan.
2)Individu yang tidak menyadari keadaan incongruence-nya , dia rentan mengalami anxiety akibat inkonruence itu.
3)Individu tidak mengijingkan pengalaman masuk ke sadaran. Individu juga mengalami kecemasan masuknya discrepancy kesadaran
4)Individu berusaha mempertahankan self-conceptnya dengan defense;(mengaburkan makna asli  suatu pengalaman ) atau dinilai mengingkari pengalaman yang pernah masuk kekesadaran) .
C. Self actualization
Freud memandang organisme sebagai enerji, dan mengembangkan teori bagaimana enerji psikis di timbulkan, ditransfer, dan di simpan. sedangkan Regers memandang organisme terus menerus bergerak. Tujuan tingkah laku bukan  untuk mereduksi tegangan enerji tetapi mencapai aktualisasi diri.
Secara alamiah kecenderungan aktualisasi diri itu aka menunjukkan diri melalui rentangan luas tingkah laku yakni:
1)Tingkah laku yang berakar pada proses fisiologik, termasuk kebutuhan dasar (air, makan,udara).
2)Tingkah laku yang berkaitan dengan motivasi psikologik menjadi diri sendiri, menghasilkan perubahan lingkungan, proses aktif menjadikan sesuatu bermain,mencipta, memulai.
3)Tingkah laku yang alih-alih merendakan tegangan justru meningkatkan tegangan  yakni tigkah laku yg motivasinya untk berkembang menjadi lebih baik.
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Full functioning person
Pribadi yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang memakai kapasitas dan bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya.
Rogers menggambarkan 5 ciri kepribadian yang berfungsi sepenuhnya sebagai berikut :
  • terbuka untuk mengalami dan mampu mendengar dirinya sendiri (openess to experience).
  • hidup menjadi berkembang (existential living).
  • Keyakinan organismik, mengerjakan apa yg dirasanya benar (organismic trusting).
  • Pengalaman kebebasan (experiental freedom).
  • kreativitas (creativity)
Orang yg sehat secara psikologis menurut Carl Rogers antara lain:
  • Kemampuan u/ menikmati hidup setiap saat
  • Keinginan u/ lebih mengikuti nalurinya dari pada orang lain.
  • Kreatif dan bebas u/ berfikir dan bertindak.
  • Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
4. MENURUT MASLOW
Abraham Maslow adalah tokoh psikologi humanistik yang amat terkenal dengan bukunya mazhab ke tiga yang banyak mengupas tentang manusia. Maslow termasuk psikolog profesional yang banyak berorientasi pada aliran behavioris meskipun tidak bisa meninggalkan aliran Freud dan Gestalt. Dalam melihat tingkah laku manusia, banyak membahas tentang berbagai hal yang terkait dengan kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar tersebut tidak hanya sebagai kebutuhan material, motive) namun juga bersifat spiritual. Kebutuhan manusia dimotivasi oleh dua dorongan yakni motif kemunduran (deficiency motivation) dan motif  perkembangan (growth motivation). Orang yang tidak memiliki kesehatan mental  yang baik akan mudah terpuaskan kebutuhan dasarnya tersebut, dan orang yang memiliki penyakit mental akan sulit untuk puas terhadap kebutuhan dasar, bahkan akan merasa kurang terus menerus.

Menurut aliran humanistik, manusia sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat, selalu bergerak ke arah pengungkapan potensi yang dimiliki apabila lingkungan memungkinkan. Merupakan suatu gerakan yang berakar pada eksistensialisme (setiap individu memiliki kekuatan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib/wujud keberadaan serta bertanggungjawab atas pilihan dan keberadaannya).

A.    Pengaruh aliran eksistensialisme terhadap humanistik

1.      Individu adalah penentu tingkah laku dan pengalamannya sendiri (individu adalah agen yang sadar, bebas memilih atau menentukan setiap tindakannya untuk menjadi makhluk bebas dan bertanggungjawab)

2.      becomung, manusia tidak pernah diam, selalu dalam proses untuk menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya, hal ini akan terjadi jika lingkungan memungkinkan

3.      Perspektif fenomenologis, pengalaman subyektif sebagai fenomena yang utama, menekankan tentang kesadaran manusia, perasaan subyketif dan pengalaman personal yang berkaitan dengan individu ketika dalam berinteraksi dengan dunia sosialnya.

B.     Ajaran Dasarnya

1.      Individu sebagai keseluruhan yang integral. Prinsip holistik, motivasi mempengaruhi individu secara keseluruhan, bukan bagian, tidak ada kebutuhan perut atau mulut yang ada adalah kebutuhan individu

2.      ketidakrelevanan penyelidikan dengan menggunakan hewan sebagai percobaannya. Akan mengaburkan nilai kemanusiaan. Hanya manusia yang pantas dijadikan subyek pemahaman tingkah laku

3.      Pembawaan baik manusia, kejahatan karena hasil lingkungan bukan merupakan pembawaan

4.      Manusia memiliki potensi untuk kreatif asal kingkungan mendukung.

5.      Menekankan pada kesehatan psikologis

C.    Kebutuhan Dasar manusia

Prinsip dari pemenuhan kebutuhan adalah mencapai homoestatis yakni keseimbangan. Ada dua daerah kutub atas dan kutub bawah. Daerah kutub atas dinamakan Being Needs dan daerah kutub bawah Defisit Needs. Daerah kutub atas merupakan titik puncak  tercapainya self aatualization sedang yang Difisit needs merupakan kebutuhan yang mendasar (physiological needs, safety needs, belonging needs dan esteem needs). Sedang B needs merupakan motivasi pertumbuhan (kebutuhan untuk ada).

Kebutuhan manusia tersusun sebagai berikut:

1.      Kebutuhan fisologis (faali/ physiological needs),

         Adalah kebutuhan terkait dengan kelangsungan hidup manusia, kebutuhan yang pemuasannya tidak mungkin ditunda. Kebutuhan dasar biologis ini antara lain adalah makan, minum, istirahat, bernafas, keseimbangan temperatur, seks dan stimulasi sensorik. Kebutuhan ini akan mendesak dalam pemuasannya dibandingkan dengan kebutuhan yang lain. Manusia tidak beralih kepada kebuthan lain sebelum kebutuhan ini terpenuhi. Misalnya seseorang yang lapar, ia bisa melakukan kegiatan apapun untuk memenuhi dorongan perutnya bahkan mungkin perbuatan yang tidak normative. Orang yang tidak sehat mentalnya pemenuha kebutuhan ini tidak pernah merasakan kepuasan.

2.      Kebutuhan akan rasa aman (need for self security).

           Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar kedua, yang muncul ketika kebutuhan fisiologis terpuaskan. Adapaun yang termasuk kebutuhan ini adalah: keamanan, perlindungan, ketergantungan, bebas dari rasa takut, cemas dan kekalutan, terganggu kebutuhan rasa amannya maka yang muncul adalah sikap ekspresive atau dengan menarik diri karena merasa takut dan terancam keselamatannya. Hal ini tidak akan terjadi pada orang dewasa, kecuali orang yang terganggu (neurosis). Kebutuhan yang harmonis adalah harapan anak untuk mendapatkan keamanan, sehingga suasana menakutkan, seperti perpisahan, perceraian, tekanan fisik, kemarahan adalah hal yang menakutkan.

3.      Kebutuhan akan rasa cinta (need for love and belongingness).

           Dorongan ini merupakan kebutuhan yang lebih meningkat lagi dari kebutuhan sebelumnya. Kebutuhan ini terkait dengan keinginannya untuk berelasi dengan orang lain secara efektif atau interaksi secara emosional, baik individu yang ada pada lingkungan keluarga maupun individu lain diluarnya (masyarakat). Seorang individu akan terasing dan merasa kesepian jika diasingkan oleh kelompoknya. Perasaan cinta  berorientasi pada kasih sayang bukan seksualitas seperti psikoanalisis. Cinta adalah kebutuhan pokok bagi perumbuhan dan perkembangan manusia. Jika terhambat atau tidak terpenuhi dapat menimbulkan salah penyesuaian. Perasaan saling percaya adalah hubungan sehat, penuh kasih sayang adalah bagian cinta yang sesungguhnya, yakni cinta yang memberi dan menerima.

4.      Kebutuhan akan  rasa dimiliki dan memiliki (need for belonging)

Hubungan kasih sayang untuk saling memiliki merupakan kebutuhan dasar bagi setiap individu. Cinta bukan berorientasi seks, melainkan lebih mengarah pada rasa saying untuk saling memiliki secara psikologis. Tanpa cinat pertumbuhan dan perkembangan kemampuan orang akan terhambat. Kekurangan cinta pada masa pertumbuhan awal dapat menyebabkan kesulitan anak untuk melakukan penyesuaian diri. Kebutuhan akan cinta adalah cinta yang memberi dan cinta yang menerima. Adat kebudayaan seringkali membuat kita menghindari kemesraan, jelainan persahabatn hanya bersifat dangkal, meremehkan dan tidak menghargai orang lain. Jika cinta tidak dimunculkan dalam melakukan interaksi dengan sesama manusia maka yang muncul adalah gelombang permusuhan dan kebencian.

5.      Kebutuhan akan harga diri (need for self esteem)

              Penghargaan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap individu untuk dapat dipenuhi. Individu yang terpenuhi kebutuhan akan penghargaan akan muncul perasaan positif terhadap dirinya sehingga akan terhindar dari gangguan patologis. Lingkungan sosial serta budaya yang memberikan penghargaan positif pada seseorang dapat menimbulkan perasaan dimiliki sehingga akan muncul perasaan memiliki lingkungan. Buadaya yang menolak dan tidak memiliki individu maka juga akan ditolak oleh individu sendiri.

            Kebutuhan ini berasal dari dua hal, pertama (berasal dari diri sendiri), keinginan atau kekuatan, prestasi, kecukupan, keunggulan, kemampuan dan kepercayaan diri. Kedua (berasal dari lorang lain), yakni: nama baik, gengsi, status, ketenaran, prestise dan kemuliaan, dominasi, pengakuan, perhatian, martabat atau apresiasi. Seseorang yang memiliki harga diri yang cukup akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi serta lebih produltif,  sementara orang yang tidak memiliki harga diri aka n diliputi rasa tidak berdaya yang berakibat pada keputusasaan dan perilaku neurotik. Harga diri yang stabil dan sehat tumbuh dan berkembang dalam penghargaan yang wajar dari orang lain, bukan karena nama harum, kemasyhuran serta sanjungan yang kosong. (Maslow) Suatu sifat dapat dipandang sebagai kebutuhan dasar jika memenuhi syarat:

1.      Ketidakhadirannya menimbulkan penyakit

2.      Kehadirannya mencegah penyakit

3.      Pemulihannya menumbuhkan penyakit

4.      Dalam keadaan kekurang lebih diuatamakan

5.      Bagi orang yang sakit kebutuhan tersebut menjadi lemah

Meskipun seseorang telah terpenuhi semua kebutuhan, banyak yang tidak merasa terpuaskan, sehingga  muncul kegelisahan, perasaan ini muncul karena kualitas potensi yang ada pada dirinya belum teraktualisasi. Dorongan aktualisasi diri muncul dari dalam dirinya, tidak terpengaruh oleh factor luar dirinya. Dorongan aktualisasi diri memiliki hambatan, baik internal maupun eksternal.

Hambatan internal berasal dari diri sendiri, antara lain ketidaktahuan akan potensinya, keraguan, perasaan takut untuk mengungkapkan potensinya. Hambatan eksternal berasal dari budaya masyarakat yang kurang mendukung. Aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang paling tinggi tingkatannya. Aktualisasi diri didorong oleh kebutuhan yang bernilai tinggi atau metamotivation (Being Values). Kebutuhan manusia didorong oleh dua motivasi, yakni motivasi kekurangan (deficiency motivation) dan motivasi pertumbuhan (growth motivation). Dalam basic needs, kebutuhan tersebut bersifat kerarkhis, namun dalam kebutuhan pertumbuhan tidaklah demikian. Individu yang terhambat dalam metamotivation akan mengalami gangguan metapathology. Dua arah pilihan hidup manusia, yakni maju atau mundur (Progessive choice dan regressive choice).

Motive pertumbuhan mengarah pada progressive choice dan sebaliknya motive kemunduran mengarah pada regressive choice. Adapun karakteristik orang yang mengaktualisasikan diri adalah: mampu melihat realita secara efisien, penerimaan terhadap diri sendiri, orang lain dan kodrat, spontanitas, kesederhanaan dan kewajaran, terpusat pada persoalan, memisahkan diri (kebutuhan akan kesendirian, otonom, kesegaran dan aspirasi yang berkelanjutan, pengalaman puncak, kesadaran social, hubungan interpersonal, struktur watak demokratis, membedakan antara cara dengan tujuan, memiliki rasa humor yang filosofis dan tidak meimbulkan permusuhan, kreatifitas, memiliki daya tahan terhadap kebudayaan

D.    Kemampuan manusia

Manusia memiliki kemampuan untuk bersikap kreatif, spontan, penuh perhatian pada orang lain, penuh rasa ingin tahu, kemampuan untuk berkembang secara terus menerus serta kemampuan untuk mencintai dan dicintai. Pengalaman masa lampau akan hadir pada masa kini dalam diri setiap orang.

Manusia memiliki kapasitas untuk tumbuh, namun banyak sekali kemampuan yang mestinya berkembang secara maksimal menjadi gagal dan tidak tumbuh. Beberapa penyebanya antara lain adalah:

1.      Lemahnya naluri untuk tumbuh, akibatnya benih untuk tumbuh menjadi lemah tak berdaya yang disebabkan oleh kebiasaan buruk, lingkungan budaya atau pendidikan yang tidak memedai

2.      Ketakutan pada naluri-naluri, karena mamandang semua naluri bersifat kebinatangan.

3.      Pengaruh negatif kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan yang sangat rendah

4.      Adanya keragu-raguan pada kemampuan yang dimiliki

5.      Hambatan lingkungan dan budaya

E.     Kepribadian dan perkembangan psikologis

Menurut Maslow kepribadian adalah kemampuan psikologis  seseorang untuk memenuhi dua tuntutan kebutuhan dasar manusia yakni D needs dan B needs yang dipengaruhi oleh factor social dan budaya.  Orang yang terpuaskan kebutuhan dasar ternyata lebih sehat, lebih efektif, sedangkan orang yang kebutuhan dasarnya tidak terpuaskan menunjukkan gejala psikopatologis.

Individu yang memiliki kepribadian masak akan memiliki penghargaan yang sehat terhadap dirinya sendiri, tidak bergantung pada orang lain (inferiority). Pengahrgaan yang diterima dari orang lain merupakan sesuatu yang memang layak untuk diterimanya. Mereka tidak membutuhkan ketenanran atau kemasyhuran yang kosong (semu), memiliki mental yang kokoh serta kontrol diri yang baik, mampu menerima kelemahan dan kesalahan diri dengan sikap positif

Individu yang memiliki kesehatan secara psikologis memiliki sifat saangat mandiri dan mencintai orang lain, memiliki keinginan yang sehat untuk perluasan diri dan mereka banyak dikendalikan oleh perintah-perintah bathin, oleh fitrah sendiri, oleh kebutuhan alamiah, daripada  oleh masyarakat atau lingkungannya. Kepribadian yang sehat akan menemukan kebahagiaan dalam membantu orang lain serta tidak mengalami kebingungan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Perkembangan psikologis mahnusia, manusia yang bisa mencapai being needs ternyata jumlahnya tidak banyak (2 %) dari populasi. Manusia yang mencapai being needs bias membedakan mana yang pura-pura dan mana yang nyata. Melihat persoalan kehidupan sebagai suatu yang harus dicari jalan keluarnya bukan sebagai takdir pribadi yang harus diterima dan pasrah. Memiliki persepsi yang berbeda mana yang dipakai sebagai alat  dan mana tujuan. Memiliki cara yang berbedadalam bergaul dengan orang lain.

F.     Pentingnya Pendidikan

Dalam pendidikan Maslow tetap memandang pentingnya masa kanak-kanak. Bayi-bayi yang pada usia 18 bulan pertama tidak mendapatkan kasih sayang akan tumbuh menjadi pribadi yang  psikopath. Anak yang ditolak setengah-setengah akan menunjukkan tingkah laku dengan cara sikap kehausan terhadap kasih sayang. Sedangkan anak yang sejak awal ditolak tidak menunjukkan cinta kasih melainkan sikap dingin dan kesan tidak memiliki kebutuhan akan kasih sayang sedikitpun.

Tahun pertama dalam perkembangan anak merupakan tahun pembentukan watak. Pemberian kasih sayang yang disarankan adalah dengan memberikan kebebsan dalam batas-batas. Orang tua yang diktator, menindas, mengekang anak mengakibatkan perkembangan anak mengalami hambatan sehungga anak tidak dapat mengembangkan kepribadiannya sendisi secara maksimal. Anak akan mengalami hambatan dalam penyesuaian diri. Anak yang sehat akan senang tumbuh dan mengalami kemajuan, memperoleh ketrampilan-ketrampilan, kapasitas-kapasitas serta kekuatan-kekuatan baru.

Pendidikan formal maupun informal memainkan peranan penting dalam mengembangkan watak. Dua tahun pertama kehidupan seseorang memiliki perannan yang amat penting. Pada awal tahun ini, jika anak merasa aman dan kuat maka dalam perkembangannya cenderung memiliki keamanan dalam mengahadpi berbagai ancaman di masa mendatang. Kebutuhan akan kebebasan untuk tumbuh, belajar dan menemukan diri serta mengembangkan ketrampilan-ketrampilan bukan berarti kebebasan tanpa aturan. Kedisiplinan, tata tertib, batas-batas serta kesepakatan untuk belajar memahami, mengendalikan menyalurkan dan mengatasi frustrasi merupakan sesuatu yang harus ditegakkan.

Orang tua harus menghindarkan diri dari sikap melindungi dan memanjakan anak secara berlebihan sampai-sampai segala sesuatu yang dibutuhkan anak disediakan tanpa anak harus berusaha, Anak semacam itu tidak akan berkembang menjadi pribadi kuat dan mandiri. Akan melahirkan anak yang memiliki kecenderungan memperalat orang lain, bukan menghormatinya.

Anak yang dimanjakan dan merasa tidak aman cenderung lengket pada ibunya yang melambangkan rasa aman srta perlindungan. Namun justru itulah yang akan menyebabkan kegagalan dalam melakukan eksplorasi, berpetualang, belajar berkembang. Proses mendidik harus mampu mengembangkan disiplin diri, sponatnitas dan kreativitas.

G.    Kepribadian yang sehat dan orang yang mengaktualisasi

Kepribadian yang sehat merupakan proses yang diperoleh melalui perjalanan panjang, baik melalui pengalaman belajar dengan lingkungan, lewat pengasuhan maupun pengaruh social budaya dimana individu berada. Kepribadian sehat ditandai dengan berbagi ciri antara lain:

1.      Memiliki kemampuan dalam menyesuaikan diri

2.      Disiplin dan tanggungjawab

3.      Menghargadi diri dan orang lain

4.      Dinamis

5.      Tidak senang konflik

6.      Memiliki rasa humor yang tinggi

Aktualisasi diri merupakan keadaan puncak dimana orang  telah mencapai keadaan akhir suatu tujuan jangka panjang, bukan suatu proses yang dinamis. Bukan kehidupan untuk memiliki melainkan pada kebutuhan untuk menjadi. Mereka mampu melihat hidup secara jernih, melihat hidup apa adanya bukan menurut keinginan mereka, tidak bersikap emosional dan obyektif terhadap hasil pengamatnnya.

Berbagai pandangan Maslow mengenai kebutuhan manusia maka ada beberapa cirri atau tanda individu yang telah mencapai titik puncak aktualisasi  adalah sebagai berikut:

1.      Bersikap obyektif dan tidak emosional

     Pribadi yang teraktualisasi memiliki kemampuan dalam melihat kehidupan secara jernih, melihat hidup bukan karena keinginannya melainkan karena kuwajibannya. Mereka tidak emosional, bersikap obyektif terhadap apa yang diamati

2.      Memiliki pengertian tentang benar dan salah

     Orang yang teraktualisasi dirinya pemikirannya tentang kebenaran dan kesalahan adalah apa adanya, sehingga mereka mampu meramalkan persitiwa yang bakal terjadi. Mereka mampu melihat realitas-realitas yang tersembunyi serta lebih cepat bergerak dibanding kebanyakan orang

3.      Memiliki sifat rendah hati

     Kepribadian yang teraktualisasi memiliki sifat rendah hati, mampu mendengarkan orang lain dengan rasa rendah hati dan penuh kesabaran. Mau mengakui bahwa banyak kelemahan yang dimiliki, mereka tidak tahu segala-galanya, orang lain akan mampu mengajari mereka sesuatu yang ia tidak memiliki

4.      Terhindar dari gangguan psikologis

     Pribadi yang teraktualisasi akan jauh dari tekanan mental serta frustrasi. Merak hidup bukan untuk dirinya melainkan untuk orang lain secara universal, mereka memiliki hasrat yang maju dan positif sehingga mereka terhindardari perasaan cemas, konflik dan frustrasi. Mereka memiliki penilaian yang bebas being cognition.

5.      Mengabdikan hidupnya untuk pekerjaan

     Pribadi yang teraktualisasi memiliki sikap hidup yang dinamis, cinta terhadap pekerjaan sera memiliki loyalitas yang tinggi. Mereke berfikir apa yang dilakukan bukanlah untuk hari ini melainkan untuk kehidupan yang lebih panjang. Bekerja memberikan kebahagiaan dan kenikmatan, sehingga pekerjaan dilakukan dengan baik dan penuh tanggungjawab serta disiplin tinggi bahkan sering menunda kenikmatan

6.      Memiliki kreativitas

     Sifat yang terkait dengan kreativitas antara lain adalah flexible, spontanitas, memeliki keberanian serta tidak takut membuat kesalahan, penuh keterbukaan serta kerendahan hati. Pribadi yang demikian tidak kehilangan dalam melakukan pendekatan sehingga sosialisasi menjadi positif .

7.      Memiliki spontanitas

     Spontanitas hampir memiliki arti yang sama denga kreativitas. Pribadi ini memiliki sikap ekspresif, wajar dan polos. Perilakunya dikerjakan apa yang ada sesuai keadaan dirinya bukan untuk mencari penghargaan melainkan apa yang dilakukan merupakan spontanitas apa yang dimilikinya.

8.      Kadar konflik yang rendah

     Pribadi yang teraktualisasi memiliki kepercayaan serta penghargaan diri yang tinggi. Mereka tidak berperang melawan diri, pribadinya menyatu sehingga kadar konfliknya rendah. Mereka memiliki energi untuk kegiatan-kegiatan yang produktif. Mereka lebih banyak dikendalikan oleh perintah fitrah batinnya bukan kebutuhan alamiah dari tuntutan masyarakat atau lingkungannya.

Kebanyakan neurosis berkaitan dengan kebutuhan rasa aman dan hubungan dengan orang lain seperti kebutuhan akan penghargaan, penerimaan rasa memiliki dan dimiliki. Kepribadian yang sakit adalah orang yang tidak pernah berhasil menjalin relasi–relasi manusiawi yang baik. Menurut Maslow Neurosis merupakan gangguan gangguan rokhani karena kehilangan makna, keragu-raguan tentang tujuan hidup, kepedihan serta amarah atas cinta yang hilang, ia melihat hidup dengan cara yang lain, kehilangan keberanian atau harapan, keputusasaan dalam mengahadpi masa depan, kebencian terhadap diri sendiri, menyendiri, menyia-nyiakan hidup dan tidak memiliki kegembiraan.

Kepribadian seperti itu secara fisik bisa dikatakan sudah matang, namun secara psikologis terbelakang, tidak mampu meninggalkan masa kanak-kanak, takut terhadap hukuman dan tidak mampu berhubungan dengan orang lain dengan sehat. Munculnya konflik antar individu bermula dari adanya konflik bathin antara kematangan dan ketidakmatangan, antara tangguangjawaban dan sikap semaunya sendiri antara dorongan dan kontrol diri anatar hasrat diri dan tuntutan masyarakat. Semuanya itu merupakan efek samping dari masalah komunikasi di dalam individu sendiri.

5. MENURUT FROMM

Dasar teori Fromm hampir sama dengan Freud, Ia setuju dengan Freud yang Pengertian dasar teori Fromm
menekankan pentingnya motivasi, tetapi ia tidak sependapat bahwa motivasi itu pertama-tama bersifat instingtif. Fromm berpendapat bahwa selain manusia terdorong untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan organic, manusia juga terdorong menjadi masyhur dan berkuasa, untuk cinta dan untuk merealisasikan cita-cita religius dan humanistik.
Secara singkat, teori kepribadian yang digagas Fromm sebagai berikut:
Kebebasan manusia yang semakin luas, menempatkan manusia merasa semakin kesepian, dengan kata lain kebebasan menjadikan keadaan yang negatif di mana manusia-manusia melarikan diri.
Manusia selalu berusaha memecahkan kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya. Maksudnya bahwa seorang pribadi merupakan bagian sekaligus terpisah dari alam; merupakan binatang, dan sekaligus manusia.
Aspek individu, yakni aspek binatang dan aspek manusia merupakan kondisi-kondisi dasar eksistensi manusia, yang berasumsi bahwa, “pemahaman tentang psikhe manusia harus berdasarkan manusia tentang kebutuhan manusa yang berasal dari kondisi-kondisi eksistensinya.
Kepribadian orang akan berkembang menurut kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu.
Sebagai manusia tidak lepas dari pasangan tipe karakter nekrofilus danbiofilus. Nekrofilus adalah orang yang tertarik pada kematian, sedangkanbiofilus adalah orang yang mencintai kehidupan.
Sekarang ini lima tipe masyarakat sudah sdemikian menggenjala, berbeda dengan masa-masa sebelumnya, seperti reseptif, eksploitatif, penimbunan, pemasaran, dan produktif.
Kepribadian yang Sehat Menurut Fromm
Fromm memberikan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat. Orang yang demikian mencintai seutuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara obejektif, memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan dan berakar di dunia, subjek atau pelaku dari diri dan takdir, dan bebas dari ikatan-ikatan sumbang.
Fromm menyebutkan kepribadian yang sehat: orientasi produktif  , yakni suatu konsep yang serupa dengan kepribadian yang matang dari Allport, dan orang yang mengaktualisasikan diri dari Maslow. Konsep itu menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata “orientasi” , Fromm menunjukan kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri sendiri.
Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat membantu menjelaskan apa yang dimaksudkan Fromm dengan orientasi produktif. Keempat segi tambahan itu adalah cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagian dan suara hati.
Cinta yang produktif adalah suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana rekan-rekan dapat mempertahankan individualitas mereka. Tercapainya cinta yang produktif merupakan salah satu dalam prestasi-prestasi kehidupan yang lebih sulit. Kita tidak “jatuh” dalam cinta; kita harus berusaha sekuat tenaga karena cinta yang produktif menyangkut empat sifat yang menantang – perhatian, tanggung jawab, respek, dan pengetahuan.
Pikiran yang produktif  meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir yang produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pemikir yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya.
Kebahagian adalah suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi produktif; kebahagian itu menyertai seluruh kegiatan produktif. Fromm menuliskan bahwa suatu perasaan kebahagian merupakan bukti bagaimana berhasilnya seseorang “dalam seni kehidupan”. Kebahagian merupakan prestasi kehidupan yang paling luhur.
Suara hati memiliki dua tipe, yakni suara hati otoriter dan suara hati humanisti. Suara hati otoriter adalah penguasa yang berasal dari luar yang di internalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Sedangkan suara hati humanistis ialah suara dari dalam diri dan bukan juga dari suatu perantara dari luar diri. Pendoman kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internak dan individual. Orang bertingkah laku sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi sepenuhnya dan menyikapi seluruh kepribadian, tingkah laku-tingkah laku yang menghasilkan seluruh persetujuan dan kebahagian dari dalam. Kesehatan jiwa dalam pandangan Fromm di tetapkan oleh masyarakat, karena kodrat struktur sosial membantu atau menghalangi kesehatan psikologis. Apabila masyarakat-masyarakat yang sakit, maka satu-satunya cara untuk mencapai orientasi produktif ialah dengan hidup dalam suatu masyarakat yang waras dan sehat, yaitu masyarakat yang memajukan produktivitas.

Ciri-ciri Kepribadian Sehat
Menurut Fromm, orang yang berkepribadian sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Mampu mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat.
2.      Mampu mencintai dan dicintai.
3.      Mampu mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan itu,
4.      Mampu hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat.
5.      Mampu menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya.
6.      Memiliki watak sosial yang produktif.

DAFTAR PUSTAKA
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: KANISUS
Hall S, C & Lindzey G. (1993). Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Kanisius: Yogyakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar