universitas gunadarma

universitas gunadarma

Kamis, 30 Oktober 2014

salah satu tokoh psikologi sekolah




BIODATA
Edward Lee " Ted " Thorndike ( 31 Agustus 1874 - 9 Agustus 1949 )
v      Mendapat ijazah dari Universiti Wesleyan (1895) dan  master di universiti   Harvard(1896).
v      Edward lee thorndike meski secara teknis seorang fungsionalis, namun ia telah membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika.
v      Mendapat Ph.D dalam tahun 1898 dari Columbia
v      Merupakan seorang pendidik Amerika dan ahli psikologi
v      Penulisan : Educational Psychology (1903), Mental and Social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911).

Pada tahun 1898, yaitu pada usia 24 tahun, Thorndike menerbitkan bukunya yang berjudul Animal Intelligence, An Experimental Study of Association Process in Animal. Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, dan burung, mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut Thorndike, yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak lain sebenarnya adalah asosiasi.
Ketika masih bergelar mahasiswa psikologi tahun pertama di Wesleylan University, Edward Lee Thorndike membaca buku yang dikarang sendiri oleh gurunya iaitu James. Edward yang mempelajari bidang Animal Learning di Harward kemudiannya datang ke Columbia atas undangan James Mc. Keen Cattell lalu melanjutkan eksperimennya terhadap hEwan. Setelah meraih gelaran Ph. D, Edward amat tertarik untuk menceburi bidang sosial dan pendidikan, lalu beliau mengajar di Teacher’s College, Columbia University sehinggalah waktu tamat perkhidmatannya pada tahun 1949.

ISI TEORI THORNDIKE
Teori ini disebut dengan teori S-R. dalam teori S-R di katakana bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (Hewan, Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan  mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Berdasarkan pengalaman itulah , maka pada saat menghadai masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Seekor kucing  misalnya, yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. Sejak itu, kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang sama.

Dalam proses belajar yang mengikuti prinsip coba-salah ini ada beberapa hukum yang dikemukakan Thorndike:
  1. Hukum Efek (The Law of Effect)
Intensitas hubungan antara S dan R meningkat apabila hubungan itu diikuti oleh keadaan yang menyenangkan. Sebaliknya, hubungan itu akan berkuran, kalau diikuti oleh keadaan yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, maka setiap tingkah laku yang menghasilkan keputusan tertentu, akan diasosiasikan dengan situasi tersebut. Jadi, apabila situasi tampil lagi, maka tingkah laku akan tampil lagi. Dalam contoh kucing dalam kandang di atas, tingkah laku injak pedal akan diasosiasikan dengan situasi menyenangkan karena terbebas dari kandang. Dengan teorinya ini Thorndike dapat dikatakan sebagai penganut paham asosiasionisme baru. Berbeda dengan asosiasionisme lama yang dianut oleh John Locke dan Mills bapak beranak, maka asosiasionisme baru tidak menghubungkan antara ide dengan ide, melainkan menghubungkan antara stimulus dengan respons atau respons dengan respons.
  1. Hukum Latihan (The Law of Exercise) atau hukum guna-tak guna (The Law od Use and Disuse):
Hubungan S-R juga dapat ditimbulkan atau didorong melalui latihan yangberulang-ulang. Dengan demikia, ini berarti pula, hubungan S-R juga dapat ditimbulkan atau didorong melalui latihan yang berulang-ulang. Dengan demikian, ini berarti pula, hubungan S-R dapat melemah kalau tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. Karena kegunaan R terhadap suatu S tertentu dalam hal yang terakhir ini tidak bisa lagi dirasakan atau makin lama makin menghilang pada organsime yang bersangkutan.
  1. The Law of Readiness
    The law of readiness tertulis dalam Original Nature of Man – 1913, yang terbagi dalam tiga bagian, dan disingkat sebagai berikut :
    1. When a conduction unit is ready to conduct, conduction by it is satisfying
    2. For a conduction unit ready to conduct, not to conduct is annoying
    3. When a conduction unit is not ready for conduction and is forced to conduct, conduction by it is annoying
    (catatan : a conduction unit ready to conduct = kesiapan untuk bertindak atau mengarahkan ke tujuan)

    Ketiga bagian dari law of readiness, diubah dalam istilah yang lebih baru, menjadi :
    1. When someone is ready to perform some act, to do so is satisfying
    2. When someone is ready to perform some act, not to do so is annoying
    3. When someone is not ready to perform some act, and is forced to do so it is annoying


  2. Catatan :
    A satisfying state of affair = suatu kondisi dimana mahkluk tidak mau menghindarinya, berusaha untuk memperoleh atau mempertahankannya
    An annoying state of affair = suatu kondisi dimana mahkluk berusaha untuk menghindari atau mengabaikannya
    disebabkan oleh dua hal, yaitu :
    o jika perilaku untuk mencapai tujuan terganggu
    o jika dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan


TEORI YANG DI KEMBANGKAN THORNDIKE
Thorndike mengembangkan teori asosiasionisme yang sangat sistematik dan menjadi salah satu teori belajar yang paling sistematik. Beliau membawa idea-idea asosiasi para filsuf ke tahap yang empiris dengan melakukan eksperimen terhadap idea-idea filosofi tersebut.

Thorndike juga mengakui pentingnya konsep reinforcement dan reward serta menuliskan teorinya tentang ini dalam ‘Law Of Effect’ pada tahun 1898(perbandingan dengan Pavlov yang baru selesai menulis ideanya tentang reinforcement pada tahun 1902)

Pada tahun 1929, penelitiannya telah membawanya keluar dari semua dal diatas kecuali apa yang yang kita sebut sekarang dengan penguatan (reinforcement).
Thorndike yang dikenal karena kajiannya tentang Transfer pelatihan (Transfer or Training), kemudian ia percaya (dan masih sering percaya) bahwa mengkaji subjek-subjek sulit meskipun anda tidak akan pernah menggunakannya. Adalah bagus buat anda karena hal itu memperkuat pikiran anda. Hal ini adalah sejenis latihan yang bias memperkuat otot-otot anda. Hal itu kemudian di gunakan kembali untuk membenarkan cara anak belajar bahasa latin, seperti halnya yang digunakan saat ini. untuk membenarkan cara anak belajar kalkulus. Namun dia menyatakan bahwa hanya keserupaan objek kedua dengan yang pertama sama saja yang bias mengarah pada pembelajaran yang meningkat hasilnya dalam subjek kedua. Jadi bahasa latin munglkin membantu anda belajar bahasa Italia, atau belajar aljabar mungkin membantu anda belajar kalkulus, tetapi bahasa latin tidak akan pernah membantu anda belajar kalkulus atau hal-hal lain yang berbeda.
Tambahan hukum Thorndike :
1.   Hukum Reaksi Bereaksi (Multiple Response)
2.   Hukum Sikap (Set \Attitude)
3.   Hukum Aktivitas Berat Sebelah(Prepotency of Element)
4.   Hukum Respon by Analogy
5.   Hukum Perpindahan Asosiasi


Edward Edward Lee Thorndike
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionismâ€. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan. Thorndike menemukan hukum-hukum.



Referensi : Righitpermana.blogspot.com
Wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar