BIODATA
Edward Lee " Ted
" Thorndike ( 31 Agustus 1874 - 9 Agustus 1949 )
v Mendapat ijazah dari
Universiti Wesleyan (1895) dan master di universiti
Harvard(1896).
v Edward lee thorndike
meski secara teknis seorang fungsionalis, namun ia telah membentuk tahapan
behaviorisme Rusia dalam versi Amerika.
v Mendapat Ph.D dalam
tahun 1898 dari Columbia
v Merupakan seorang
pendidik Amerika dan ahli psikologi
v Penulisan :
Educational Psychology (1903), Mental and Social Measurements (1904), Animal
Intelligence (1911).
Pada tahun 1898, yaitu pada usia 24 tahun, Thorndike
menerbitkan bukunya yang berjudul Animal Intelligence, An Experimental Study
of Association Process in Animal. Buku ini yang merupakan hasil penelitian
Thorndike terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing,
dan burung, mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut
Thorndike, yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak lain
sebenarnya adalah asosiasi.
Ketika masih bergelar mahasiswa psikologi tahun
pertama di Wesleylan University, Edward Lee Thorndike membaca buku yang
dikarang sendiri oleh gurunya iaitu James. Edward yang mempelajari bidang
Animal Learning di Harward kemudiannya datang ke Columbia atas undangan James Mc.
Keen Cattell lalu melanjutkan eksperimennya terhadap hEwan. Setelah meraih
gelaran Ph. D, Edward amat tertarik untuk menceburi bidang sosial dan
pendidikan, lalu beliau mengajar di Teacher’s College, Columbia University
sehinggalah waktu tamat perkhidmatannya pada tahun 1949.
ISI TEORI THORNDIKE
Teori ini disebut dengan teori S-R. dalam teori S-R di
katakana bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (Hewan, Orang)
belajar dengan cara coba salah (Trial end error). Kalau organisme berada dalam
suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan
mengeluarkan serentakan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada
padanya untuk memecahkan masalah itu. Berdasarkan pengalaman itulah , maka pada
saat menghadai masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yang
harus di keleluarkan nya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan suatu
masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Seekor kucing
misalnya, yang di masukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak, berjalan,
meloncat, mencakar dan sebagainya sampai suatu saat secara kebetulan ia
menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. Sejak
itu, kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandag yang
sama.
Dalam proses belajar yang mengikuti prinsip coba-salah ini ada beberapa hukum yang dikemukakan Thorndike:
- Hukum Efek (The Law of Effect)
Intensitas
hubungan antara S dan R meningkat apabila hubungan itu diikuti
oleh keadaan yang menyenangkan. Sebaliknya, hubungan itu akan berkuran, kalau
diikuti oleh keadaan yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, maka setiap
tingkah laku yang menghasilkan keputusan tertentu, akan diasosiasikan dengan
situasi tersebut. Jadi, apabila situasi tampil lagi, maka tingkah laku akan
tampil lagi. Dalam contoh kucing dalam kandang di atas, tingkah laku injak
pedal akan diasosiasikan dengan situasi menyenangkan karena terbebas dari
kandang. Dengan teorinya ini Thorndike dapat dikatakan sebagai penganut paham
asosiasionisme baru. Berbeda dengan asosiasionisme lama yang dianut oleh John
Locke dan Mills bapak beranak, maka asosiasionisme baru tidak menghubungkan
antara ide dengan ide, melainkan menghubungkan antara stimulus dengan respons
atau respons dengan respons.
- Hukum Latihan (The Law of Exercise) atau hukum guna-tak guna (The Law od Use and Disuse):
Hubungan S-R juga dapat ditimbulkan atau didorong melalui latihan
yangberulang-ulang. Dengan demikia, ini berarti pula, hubungan S-R juga
dapat ditimbulkan atau didorong melalui latihan yang berulang-ulang. Dengan
demikian, ini berarti pula, hubungan S-R dapat melemah kalau tidak
dilatih atau dilakukan berulang-ulang. Karena kegunaan R terhadap suatu S
tertentu dalam hal yang terakhir ini tidak bisa lagi dirasakan atau makin lama
makin menghilang pada organsime yang bersangkutan.
- The Law of Readiness
The law of readiness tertulis dalam Original Nature of Man – 1913, yang terbagi dalam tiga bagian, dan disingkat sebagai berikut :
1. When a conduction unit is ready to conduct, conduction by it is satisfying
2. For a conduction unit ready to conduct, not to conduct is annoying
3. When a conduction unit is not ready for conduction and is forced to conduct, conduction by it is annoying
(catatan : a conduction unit ready to conduct = kesiapan untuk bertindak atau mengarahkan ke tujuan)
Ketiga bagian dari law of readiness, diubah dalam istilah yang lebih baru, menjadi :
1. When someone is ready to perform some act, to do so is satisfying
2. When someone is ready to perform some act, not to do so is annoying
3. When someone is not ready to perform some act, and is forced to do so it is annoying
- Catatan :
A satisfying state of affair = suatu kondisi dimana mahkluk tidak mau menghindarinya, berusaha untuk memperoleh atau mempertahankannya
An annoying state of affair = suatu kondisi dimana mahkluk berusaha untuk menghindari atau mengabaikannya
disebabkan oleh dua hal, yaitu :
o jika perilaku untuk mencapai tujuan terganggu
o jika dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan
TEORI YANG DI KEMBANGKAN THORNDIKE
Thorndike mengembangkan teori asosiasionisme yang
sangat sistematik dan menjadi salah satu teori belajar yang paling sistematik.
Beliau membawa idea-idea asosiasi para filsuf ke tahap yang empiris dengan
melakukan eksperimen terhadap idea-idea filosofi tersebut.
Thorndike juga mengakui pentingnya konsep
reinforcement dan reward serta menuliskan teorinya tentang ini dalam ‘Law Of
Effect’ pada tahun 1898(perbandingan dengan Pavlov yang baru selesai menulis
ideanya tentang reinforcement pada tahun 1902)
Pada tahun 1929, penelitiannya
telah membawanya keluar dari semua dal diatas kecuali apa yang yang kita sebut
sekarang dengan penguatan (reinforcement).
Thorndike yang dikenal karena kajiannya tentang
Transfer pelatihan (Transfer or Training), kemudian ia
percaya (dan masih sering percaya) bahwa mengkaji subjek-subjek sulit meskipun
anda tidak akan pernah menggunakannya. Adalah bagus buat anda karena hal itu
memperkuat pikiran anda. Hal ini adalah sejenis latihan yang bias memperkuat
otot-otot anda. Hal itu kemudian di gunakan kembali untuk membenarkan cara anak
belajar bahasa latin, seperti halnya yang digunakan saat ini. untuk membenarkan
cara anak belajar kalkulus. Namun dia menyatakan bahwa hanya keserupaan objek
kedua dengan yang pertama sama saja yang bias mengarah pada pembelajaran yang
meningkat hasilnya dalam subjek kedua. Jadi bahasa latin munglkin membantu anda
belajar bahasa Italia, atau belajar aljabar mungkin membantu anda belajar
kalkulus, tetapi bahasa latin tidak akan pernah membantu anda belajar kalkulus
atau hal-hal lain yang berbeda.
Tambahan hukum Thorndike :
1. Hukum Reaksi Bereaksi (Multiple Response)
2. Hukum Sikap (Set \Attitude)
3. Hukum Aktivitas Berat Sebelah(Prepotency of Element)
4. Hukum Respon by Analogy
5. Hukum Perpindahan Asosiasi
Edward Edward Lee Thorndike
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya
asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori
belajar ini disebut teori “connectionismâ€. Eksperimen yang dilakukan adalah
dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat
dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut
menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error
Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal
eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi
mencapai tujuan. Thorndike menemukan hukum-hukum.
Referensi : Righitpermana.blogspot.com
Wikipedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar